“Lyla! Jawab pertanyaan Ibu!” seru Bu Sylla sambil melotot ke arah Lyla yang sedang memandang ke luar jendela sambil senyum-senyum sendiri. Finsa, teman sebangku Lyla, menyikut pelan tangan Lyla. Lyla langsung sadar dan memandang takut ke arah Bu Sylla. “Ayo, apa jawabannya?” ujar Bu Sylla lagi sambil berkacak pinggang. Lyla diam saja, karena ia tidak mendengarkan Bu Sylla dari tadi. Bu Sylla menghentakkan kaki tidak sabar. “Lagi lagi ya, kamu kayak gitu! Ayo, tulis semua jawaban beserta soalnya halaman 55 di papan tulis, cepat!” seru Bu Sylla. Lyla langsung berdiri sambil membawa bukunya lalu mengambil spidol dan mulai menulis.
Sudah jadi kebiasaan Lyla melamun di kelas. Pikirannya tidak pernah fokus ke pelajaran. Sebetulnya, bukan cuma di sekolah saja ia suka melamun. Ia selalu melamun di mana-mana. Ya, di pikiran Lyla, banyak sekali cerita-cerita yang ia karang sendiri. Tiba-tiba datang ke otaknya dan membuat Lyla tidak konsentrasi dengan apa yang sedang dikerjakanannya.
“Lyla, sini deh!” panggil ibunya di rumah. Lyla segera menghampiri ibunya. “Kenapa, Bu?” tanya Lyla lalu duduk di sebelah ibunya sambil membawa majalah. “Kenapa sih, Lyla suka ngelamun di kelas?” tanya ibunya lembut. Lyla mengedikkan bahu. “Lyla nggak bermaksud gitu, kok, Bu! Bener deh! Tapi tiba-tiba, waktu Lyla ngamatin sesuatu, di otak Lyla langsung muncul cerita-cerita yang tau-tau dateng sendiri…” curhat Lyla.
Ibu Lyla tersenyum. “Gini deh, Ibu punya usul!” ujar Ibu Lyla sambil tersenyum. “Apa, Bu?” tanya Lyla bersemangat. Ia sudah capek harus belajar keras tiap mau ulangan, karena di kelas ia sering tidak memerhatikan. “Gini, tiap Lyla dapet cerita di otak Lyla, Lyla tulis aja! Dikembangin aja di otak Lyla. Nanti juga diketik, terus disimpen di folder khusus buat cerita-cerita Lyla.” usul ibunya. Lyla tersenyum senang, “Ide bagus, Bu! Makasih ya Bu…” ujar Lyla sambil memeluk ibunya. “Tapi Lyla harus janji, di sekolah kalau lagi pelajaran dapet ide baru, langsung tulis aja ide pokoknya di kertas, terus Lyla tetep merhatiin pelajaran. Nanti di rumah, bisa dikembangin.” lanjut ibunya. Lyla tersenyum, “Pasti, Bu! Janji!!!”.
Pada awalnya, Lyla agak sulit menyesuaikan dengan kebiasaan barunya tersebut. Untung teman sebangkunya, Finsa, selalu mengingatkannya begitu Lyla mulai melamun. Lyla sekarang punya buku tulis kecil yang selalu dibawa ke mana-mana untung menuliskan ide-idenya. Saking banyaknya, bahkan beberapa belum sempat Lyla kembangkan.
Hanya dalam hitungan minggu, folder cerita Lyla sudah berisi hampir 20 cerita. Ibunya membaca satu-satu cerita Lyla. Ibunya sampai kaget dengan cerita-cerita Lyla yang imajinatif, lucu, polos, dan mengejutkan. Unik deh! Begitu mengetahui bakat tersembunyi Lyla, diam-diam Ibu Lyla mengirimkan cerita-cerita Lyla untuk diterbitkan dalam sebuah kumpulan cerpen.
“Happy Birthday, Lyla!!! Selamat ulang tahun, ya!” ujar ibunya sambil tersenyum di hari ulang tahun Lyla yang ke-12. Lyla tersenyum senang, “Makasih, Bu!”. “Ayo, ke ruang keluarga. Kita ke acara ngasih kado, ya!” ajak ibunya sambil menarik Lyla ke ruang keluarga. Di ruang keluarga sudah berkumpul ayahnya, adik perempuannya, dan kedua kakak laki-lakinya. Ayah Lyla memberi Lyla laptop kecil yang memungkinkan Lyla membawanya ke mana-mana, jadi di mana pun Lyla bisa mengetik ceritanya. Adik perempuannya yang masih berusia 6 tahun, Rossy, memberinya mouse computer berbentuk panda yang lucu. Sedangkan kakak laki-lakinya yang berusi 16 tahun, Johnny, memberinya seluruh episode komik Death Note. Kakak laki-lakinya yang paling tua yang berusia 20 tahun, Ricky, memberinya flash disk berbentuk pesawat terbang.
“Nah, sekarang kado dari Ibu!” ujar Ricky sambil memandang ke arah ibunya. Ibu Lyla tersenyum, “Pasti! Bentar ya, Ibu ambil dulu.”. Ibu Lyla lalu masuk ke kamarnya lalu keluar kamar sambil menyeret kotak kado besar yang kelihatan berat. Johnny langsung membantu. “Wah, besar banget, Bu! Aku buka, ya!” ujar Lyla. Ibunya mengangguk. Lyla lalu membuka tutup kotak kadonya. Di dalamnya berisi berpuluh-puluh novel. Lyla lalu mengambil salah satu, dan membaca judulnya: Kumpulan Cerpen: Mesin, Wow! oleh Lyla Potterys
Lyla merayakan ultahnya di sekolah juga. Bingkisannya, tentu saja berpuluh-puluh novel Lyla yang sudah dibelikan ibunya. Lyla sangat senang. Ternyata, hobinya yang membuatnya sering dimarahi guru, ternyata malah membuatnya menjadi terkenal. Yap, buku kumpulan cerpen Lyla laris di pasaran. Cerita-cerita Lyla yang lainnya pun ikut diterbitkan. Dan, semuanya laris manis.
Di ultahnya yang ke-15, Lyla membuat kejutan dengan menerbitkan novel, bukan kumpulan cerpen lagi. Novelnya ini pun tak kalah terkenal daripada kumpulan cerpennya. Lyla pun menjelma menjadi penulis muda yang sukses. Bahkan, ia mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional setelah memenangkan lomba esai internasional, Glass House International Essay Competition. Esai buatannya menjadi yang terbaik dari peserta-peserta lain dari berbagai negara. Lyla pun semakin dikenal di dunia internasional, bahkan novelnya pun diterjemahkan ke berbagai bahasa. Hobi, memang harus digali terus!
Monday, November 2, 2009
Friday, August 28, 2009
Masa Depan yang Suram
Tahun 2025. Dunia di ambang kehancuran, di ambang kiamat. Persediaan oksigen milik organisasi dunia semakin menipis, keluar rumah sangat berbahaya. Karena, lapisan ozon sudah hampir bolong semua sehingga sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi sehingga sangat berbahaya bagi manusia. Semua hewan telah punah, yang tersisa hanya daging-daging ayam dan sapi beku yang tersimpan di bank makanan dunia, itupun sudah semakin menipis. Begitu pula halnya dengan tumbuhan. Hanya tersedia benih-benih yang tersimpan di bank benih, dan setiap orang hanya mendapat jatah sedikit setiap harinya. Kematian selalu terjadi setiap hari di seluruh belahan dunia karena berbagai akibat.
Namun, para pemimpin negara di dunia seperti tidak peduli terhadap keadaan bumi lagi. Mereka yang mendapat fasilitas nomer 1 tersebut hanya memikirkan diri sendiri. Mereka malah sibuk berperang nuklir, blok timur melawan blok barat. Nuclear World War yang dapat disebut Perang Dunia III telah pecah. Hanya tinggal United Nations atau yang dikenal di Indonesia sebagai Persatuan Bangsa-Bangsa yang peduli terhadap bumi. Semua orang berperang, hanya tinggal anak-anak yang ketakutan dan terancam hidupnya setiap hari. Semua orang berpendapat, harapan untuk bertahan, nihil!
Warell berpendapat berbeda. Anak cewek Indonesia yang berumur 13 tahun tersebut memiliki harapan besar bagi Indonesia dan bumi. Ia bertekad membantu semampunya. Semua itu bermula ketika suatu hari setahun yang lalu, pada tanggal 17 Agustus 2024. Hari itu, Warell bangun dengan semangat. Ia sangat gembira hari itu, karena ia ingat hari itu adalah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-79. Namun, betapa kecewanya dia saat melihat keadaan rumah yang sepi dan suram seperti biasanya. Ayah ibunya tetap berperang dan tidak ada di rumah, seperti biasanya. Hanya ada neneknya yang sudah berusia 64 tahun dan kakak laki-lakinya, Roosaq, yang berumur 17 tahun. Warell berpikir, apakah tidak ada satu pun orang yang ingat hari kemerdekaan Indonesia kecuali dirinya? Begitu bertanya kepada nenek dan kakaknya, Warell benar-benar yakin tidak ada seorang pun yang ingat akan hari kemerdekaan Indonesia. Ia mengunci diri di kamar dan menangis terisak.
Ia ingat, suatu hari sewaktu dirinya masih berumur 8 tahun, saat akan tidur, neneknya menceritakan sesuatu yang sangat membuatnya senang. Neneknya bercerita, dulu sewaktu neneknya masih kecil dan sewaktu masih muda, hari kemerdekaan Indonesia adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu seluruh rakyat. Sejak beberapa hari sebelum hari kemerdekaan, seluruh Indonesia sudah sibuk bersiap menyambutnya. Seluruh desa dihias dengan bendera merah-putih dan di setiap rumah berkibar bendera merah-putih. Juga terdapat lomba-lomba di sekolah dan di desa, untuk merayakan hari kemerdekaan. Yang sudah menjadi tradisi adalah lomba makan kerupuk dan lomba panjat pinang. Waktu itu, Warell membayangkan betapa menyenangkannya masa kecil neneknya tersebut. Neneknya dapat merasakan kasih sayang sepenuhnya dari orang di sekitarnya dan setiap orang peduli terhadap orang lain. Sedangkan sekarang, hanya terdapat kesuraman, kesunyian, dan kecemasan setiap harinya.
Maka dari itu, ia bertekad besar mengubah dunia ini semampu yang ia bisa. Pertama-tama, ia menulis e-mail kepada perwakilan PBB di Indonesia untuk disampaikan ke kantor PBB pusat di AS. Ia menuliskan segala unek-uneknya tentang dunia, terutama Indonesia, dalam e-mail tersebut. Tentu saja dia juga memberi saran-saran untuk memperbaiki dunia yang sudah di ambang kehancuran ini.
Suatu hari, seminggu setelah e-mailnya dikirim, ia membaca website berita khusus anak-anak—The ChiFacO (The Children Facts For)—dari PDA kesayangannya. Karena, pada masa itu kertas sudah tidak diproduksi lagi karena punahnya pohon-pohon untuk membuat kertas, sehingga setiap orang mempunyai PDA untuk membuka berbagai website di internet.
Ia sangat senang begitu melihat suatu berita yang berjudul Children Cares for Earth: The UNICEF International Program. Artikel itu memuat berita tentang UNICEF—badan PBB untuk anak-anak—yang akan membuat program untuk anak-anak yang berumur 6-17 tahun untuk bekerja sama memperbaiki bumi, karena banyaknya keluhan dari anak-anak di seluruh dunia terhadap keadaan bumi sekarang ini. Pertama-tama, akan digelar konferensi internasional, Earth’s Children International Conference 2025, di kantor pusat UNICEF di AS pada tanggal 11 September, seminggu lagi. Setiap anak di dunia dipersilahkan mengikuti konferensi ini asal berumur 6-17 tahun. Bila ingin ikut, diharapkan segera mengirim e-mail ke e-mail perwakilan UNICEF di negara masing-masing. Setelah itu, mereka akan dikirimi e-mail khusus yang harus mereka tunjukkan di bandara saat mereka akan berangkat. Jadi, mereka tidak membayar tiket pesawat. Program ini juga didukung website berita anak-anak The ChiFacO, organisasi dunia yang mengurus anak-anak di seluruh dunia Wii All Happy 2B Kids Organization, dan perkumpulan atlet di seluruh dunia yang peduli terhadap anak-anak ChiTHA (Children To Healthy with Athlete).
Warell langsung berlari ke kamar kakaknya dan menggedor-gedor pintu kamar kakaknya. Roosaq akhirnya keluar, dengan PDA ditangannya. “Kenapa sih?!” tanya Roosaq pada Warell. “Kak, ada konferensi anak Earth’s Children International Conference 2025 di kantor pusat PBB di AS. Kakak ikut ya, mumpung kakak masih umur 17 tahun, jadi masih boleh…” rengek Warell kepada Roosaq. “Konferensi anak??? Tentang apa, Rel?” tanya kakaknya. “Kakak buka deh website berita anak The ChiFacO, terus baca berita yang judulnya Children Cares for Earth: The UNICEF International Program. Pokoknya baca aja deh…” ujar Warell. Roosaq segera membuka website The ChiFacO, lalu membaca berita yang sudah diberitahu adiknya tersebut. “Hmm…boleh deh! Kita berangkat tanggal 9 aja ya, pas hari Sabtu. Nanti kita Sabtu-Minggu jalan-jalan dulu, Senin-nya pas tanggal 11 kita ikut konferensi, gimana?!” usul Roosaq setelah membaca berita tersebut. “Yeeey… Setuju, kak!” seru Warell bersemangat. Roosaq tersenyum.
Mereka minta ijin dulu dengan nenek dan orang tua mereka, dan mereka diperbolehkan. Malam itu, Warell mengirim berita tersebut ke teman-temannya lewat e-mail, dan ternyata semua teman Warell juga mau ikut.
9 September 2025, pukul 08.00. Warell dan Roosaq sudah berada di bandara sekarang. Mereka sedang menunggu pesawat di ruang tunggu bandara. Roosaq dan Warell sama-sama asyik dengan PDA mereka masing-masing.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, pesawat yang akan mereka tumpangi—Indonesia Airlines—akhirnya datang juga. Mereka segera mengantri masuk ke pesawat dan begitu masuk pesawat mereka duduk di tempat yang sudah mereka pesan.
Pesawat pada jaman itu sudah pesawat supersonik. Jadi, perjalanan ke manapun bisa dalam hitungan menit. Mereka juga mendapat makanan berupa suplemen khusus dan sebotol air putih. Karena pada waktu itu, setiap orang setiap hari mendapat 3 suplemen khusus untuk pengganti makanan, karena pada waktu itu makanan sangatlah langka dan makanan segar hanya diberikan sebulan sekali, itupun hanya cukup untuk satu kali makan. Air putih juga disediakan bersamaan dengan suplemen khusus tersebut, karena mineral satu-satunya zat yang tidak terdapat pada suplemen khusus tersebut.
Selesai makan, pesawat telah mendarat di bandara Washington D.C, ibukota AS. Mereka segera turun dari pesawat, lalu begitu keluar dari bandara naik PRT (Personal Rapid Transport) ke UNICEF Official Hotel, yaitu hotel yang disediakan khusus untuk tamu-tamu UNICEF. Khusus untuk Earth’s Children International Conference 2025, UNICEF menyulap 3 lantai paling atas hotel tersebut dengan mengosongkannya lalu membaginya menjadi dua bagian sama besar dan setiap bagian diberi berpuluh-puluh tempat tidur tingkat. Bagian kanan untuk perempuan, bagian kiri untuk laki-laki. Roosaq dan Warell mendapat bagian lantai nomor 3 paling atas karena mereka datang cepat.
Begitu membereskan barang-barang mereka dan memilih tempat tidur, mereka pun naik PRT berputar-putar keliling Washington D.C. Mereka turun di White House, istana kepresidenan AS, dan mengikuti tur keliling White House dan juga mengunjungi Monumen Washington hingga waktu makan siang. Mereka kembali ke hotel untuk mendapat suplemen khusus dan sebotol air putih, lalu kembali berjalan-jalan naik PRT.
Kali ini mereka berjalan-jalan ke Ford Theatre lalu ke Smithsonian Castle. Tapi tentu saja yang paling menyenangkan adalah ke Smithsonian Air & Space Museum dan Smithsonian Natural History Museum. Di sana mereka puas melihat-lihat koleksi museum yang sangat lengkap. Tempatnya pun sangat nyaman. Warell paling senang ke Smithsonian Natural History Museum, karena di sana ia bisa melihat berbagai binatang yang dulu pernah hidup di bumi. Tentu saja tidak binatang sebenarnya, namun binatang-binatang di situ sangat mirip dengan aslinya. Warell sekali lagi merenungi nasib bumi mereka sekarang ini.
Puas berjalan-jalan, mereka beristirahat di hotel hingga waktu makan malam. Pada saat dibagikan suplemen khusus dan sebotol air putih, sudah ada 10 cewek yang datang termasuk Warell. Warell berkenalan dengan mereka semua, termasuk seorang cewek yang tidur di atasnya pada tempat tidur bertingkat pilihannya. Namanya Smithsa dan dia berasal dari Australia. Mereka pun seumuran, sehingga langsung akrab. Mereka mengobrol asyik tentang tempat tinggal masing-masing dan hobi mereka. Tak ketinggalan juga, tentang nasib bumi sekarang tentunya! Warell juga bercerita tentang perjalanannya tadi berkeliling Washington D.C bersama kakaknya kepada Smithsa. Besok Smithsa dan Warell berencana akan ke Jolly Roger Amusement Park. Jolly Roger Amusement Park adalah taman rekreasi seperti kawasan Ancol di Indonesia. Jolly Roger Amusement Park berada di Ocean City, Maryland, tak begitu jauh dari Washington D.C. Jolly Roger Amusement Park merupakan taman rekreasi terbesar di daerah pantai timur. Permainan di Jolly Roger Amusement Park di antaranya Splash Mountain Water Park dan Speedworld Go-Kart Tracks.
Warell bertanya kepada Roosaq apakah dia mau ikut, tapi Roosaq sudah akan pergi dengan sahabatnya yang juga ikut konferensi tersebut yang sudah datang—Reve—ke Assateague Island di Maryland. Mereka juga akan ke Ocean City, Maryland. Karena mereka berempat sama-sama akan ke Maryland, mereka berencana berangkat bersama-sama naik PRT setelah sarapan sekitar jam 9 pagi.
Warell dan Smithsa sudah di Jolly Roger Amusement Park sekarang. Pertama, mereka berjalan-jalan di Mountain Water Park. Mereka hanya melihat-lihat saja, karena memang tidak mau berenang. Setelah puas melihat berbagai permainan air yang sangat seru, mereka lalu berjalan ke wahana Speedworld Go-Kart Tracks.
“Kamu mau coba naik go-kart di sana?” tanya Smithsa pada Warell saat mereka sampai di Speedworld Go-Kart Tracks. Warell tersenyum, “Ya iyalah! Udah nyampe sini, masa nggak dicoba sih?! Kayaknya seru juga tuh!” jawab Warell sambil mengambil nomer antrian dan mereka pun duduk-duduk sambil melihat para pengunjung lain yang sedang bermain go-kart. Smithsa mengangguk-angguk, “Aku juga ah!” ujarnya. Warell mengangguk menyetujui.
Beberapa menit kemudian, setelah membeli tiket, mereka pun masuk ke arena go-kart tersebut. Mereka memakai baju khusus, helm, dan berbagai pengaman lainnya. Setelah semua terpasang, mereka menaiki go-kart.
Mereka bermain go-kart dengan seru sekali! Saling menyalip dan cepat-cepatan menjelang finish. Akhirnya, Smithsa berhasil finish duluan dengan perbedaan waktu yang sangat tipis.
Setelah capek bermain go-kart mereka memutuskan beristirahat dulu sekalian makan siang. Setelah melahap suplemen khusus dan menghabiskan sebotol air putih, mereka kembali berjalan-jalan. Mereka menaiki berbagai wahana yang memang biasa terdapat di taman rekreasi. Mereka naik berbagai wahana lainnya, termasuk Schwarzkopf Wildcat roller coaster. Setelah capek, mereka memutuskan untuk pulang ke hotel dengan PRT. Mereka harus bersiap-siap untuk konferensi besok.
Malamnya, Warell sibuk membuat karya tulis yang akan dia bacakan di konferensi nanti di PDA-nya. Sebetulnya ia sudah membuatnya sejak di Indonesia, namun ia ingin memastikan karya tulisnya benar-benar sempurna. Karya tulisnya berbahasa Inggris dan berjudul Children in Action.
Keesokan harinya, Warell bangun pagi-pagi. Ia bangun dengan sangat bersemangat. Setelah berganti baju dengan baju terbaiknya, ia lalu sarapan dengan cepat. Setelah itu, ia pun naik PRT dengan Smithsa, Roosaq, dan Reve menuju kantor pusat UNICEF. Anak-anak lainnya pun juga naik dengan PRT.
Dan, sampailah Warell di kantor pusat UNICEF. Kantor yang megah dan berteknologi tinggi namun ramah lingkungan ini begitu mencolok di antara gedung-gedung pencakar lainnya di sekelilinya. Warnanya yang hijau mencolok membuatnya terlihat beda dan mudah dikenali sebagai kantor pusat UNICEF. Jendela-jendelanya pun dilukisi berbagai wajah anak-anak di seluruh dunia hingga membentuk gambar besar berbentuk logo UNICEF. Warell belum pernah ke sini sebelumnya, dan ia sangat kagum dengan gedung tersebut.
Begitu masuk ke gedung tersebut, mereka disambut pemandangan yang sangat unik. Lobby utama gedung ini dihias sedimikian rupa sehingga mirip hutan-hutan yang sering dilihat Warell di buku-buku ensiklopedia dan dibuat seceria mungkin. Rombongan besar tersebut lalu digiring ke auditorium utama.
Warell segera mengambil tempat duduk di sebelah Smitsa dan Roosaq. Setelah semua anak yang ikut konferensi sudah mendapat tempat duduk di auditorium, seorang laki-laki memakai jas lengkap naik panggung. Ia ternyata MC-nya. “Hai semua!!!” sapa MC itu ramah. Kami semua membalas sapaannya. “Wah, kayaknya bersemangat semua ya! Semua sudah siap kan, dengan karya tulisnya?! Oke deh, kita sambut…Mr. Robert Palling-de Law!!!” seru MC tersebut. Warell bertepuk tangan dengan riuh diikuti yang lainnya, karena ia tahu Mr. Robert Palling-de Law adalah ketua UNICEF.
Mr.Robert memberi sambutan hangat dan berpidato sebentar tentang kepentingan mereka menggelar konferensi ini dan tentang program UNICEF lebih dalam lagi. Warell mendengarkan dengan sungguh-sungguh perkataan Mr.Robert.
“Baiklah semua, sekarang kita mulai saja konferensi hari ini!” ujar Mr.Robert akhirnya. “Oke, sekarang silahkan buka website UNICEF, www.unicef.org, dan silahkan copy-paste karya tulis kalian di menu Earth’s Children International Conference 2025. Silahkan!” lanjut Mr.Robert. Warell segera meng-copy paste karya tulisnya ke menu tersebut, begitu pula dengan anak-anak lainnya. “Oke, bila sudah meng-copy paste karya tulisnya semua, baiklah, siapa yang mau membacakan pertama kali??” tawar Mr.Robert. Warell segera mengacungkan jarinya. “Yah, silahkan…” “Warell, Sir!” jawab Warell cepat. “Oke Warell, silah…” tiba-tiba kata-kata Mr.Robert terhenti karena terdengar bunyi yang sangat keras dari luar.
Anak-anak segera heboh dan berebutan melihat keluar jendela. Di langit, terlihat bom nuklir yang telah ditembakkan jatuh tepat menuju gedung UNICEF tersebut. Anak-anak langsung panik dan berebutan keluar dari auditorium. Namun belum sempat seseorang pun keluar dari gedung, bom nuklir telah jatuh tepat di atasa gedung tersebut dengan bunyi berdebum keras, diiringi ledakan tak bersuara yang sangat dahsyat. Dalam sekejap, gedung UNICEF dan semua gedung di daerah situ hancur dan tak ada seorang pun yang selamat dari serangan mengejutkan tersebut, anak-anak para peserta konferensi dan petinggi-petinggi UNICEF yang sedang berusaha menyelamatkan bumi.
Peristiwa tersebut langsung menjadi berita utama di semua website berita. Perang pun langsung terhenti begitu mengetahui seluruh anak-anak di bumi tewas dalam kejadian tersebut karena seluruh anak di seluruh dunia mengikuti konferensi tersebut. Seluruh negara bekerja sama mencari siapa otak dibalik bom nuklir mengejutkan tersebut.
Setelah ditangkap pelakunya, seluruh dunia sepakat menghentikan perang nuklir selamanya dan mulai peduli terhadap bumi. Namun sayangnya, bumi sudah terlalu parah kerusakaannya sehingga manusia yang tersisa pun terpaksa diungsikan ke planet lain yang mirip dengan bumi namun jauh lebih indah bumi. Di bumi terdapat tugu peringatan yang dibangun persis di atas reruntuhan bangunan gedung UNICEF. Di planet baru tersebut, mereka juga membangun tugu peringatan di kantor pusat pemerintahan.
Akhirnya, tanggal 11 September diperingati sebagai hari berkabung seluruh dunia. Dan sebetulnya, tanggal 11 September sudah diperingati sebagai hari berkabung seluruh AS sejak tahun 2001, karena terjadi pengeboman menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001...
Semoga, apa yang terjadi di cerita ini tidak terjadi di dunia nyata. Maka dari itu, marilah kita jaga dan rawat bumi kita tercinta ini... Stop Global Warming, Let's Go Green!!!
Namun, para pemimpin negara di dunia seperti tidak peduli terhadap keadaan bumi lagi. Mereka yang mendapat fasilitas nomer 1 tersebut hanya memikirkan diri sendiri. Mereka malah sibuk berperang nuklir, blok timur melawan blok barat. Nuclear World War yang dapat disebut Perang Dunia III telah pecah. Hanya tinggal United Nations atau yang dikenal di Indonesia sebagai Persatuan Bangsa-Bangsa yang peduli terhadap bumi. Semua orang berperang, hanya tinggal anak-anak yang ketakutan dan terancam hidupnya setiap hari. Semua orang berpendapat, harapan untuk bertahan, nihil!
Warell berpendapat berbeda. Anak cewek Indonesia yang berumur 13 tahun tersebut memiliki harapan besar bagi Indonesia dan bumi. Ia bertekad membantu semampunya. Semua itu bermula ketika suatu hari setahun yang lalu, pada tanggal 17 Agustus 2024. Hari itu, Warell bangun dengan semangat. Ia sangat gembira hari itu, karena ia ingat hari itu adalah hari kemerdekaan Indonesia yang ke-79. Namun, betapa kecewanya dia saat melihat keadaan rumah yang sepi dan suram seperti biasanya. Ayah ibunya tetap berperang dan tidak ada di rumah, seperti biasanya. Hanya ada neneknya yang sudah berusia 64 tahun dan kakak laki-lakinya, Roosaq, yang berumur 17 tahun. Warell berpikir, apakah tidak ada satu pun orang yang ingat hari kemerdekaan Indonesia kecuali dirinya? Begitu bertanya kepada nenek dan kakaknya, Warell benar-benar yakin tidak ada seorang pun yang ingat akan hari kemerdekaan Indonesia. Ia mengunci diri di kamar dan menangis terisak.
Ia ingat, suatu hari sewaktu dirinya masih berumur 8 tahun, saat akan tidur, neneknya menceritakan sesuatu yang sangat membuatnya senang. Neneknya bercerita, dulu sewaktu neneknya masih kecil dan sewaktu masih muda, hari kemerdekaan Indonesia adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu seluruh rakyat. Sejak beberapa hari sebelum hari kemerdekaan, seluruh Indonesia sudah sibuk bersiap menyambutnya. Seluruh desa dihias dengan bendera merah-putih dan di setiap rumah berkibar bendera merah-putih. Juga terdapat lomba-lomba di sekolah dan di desa, untuk merayakan hari kemerdekaan. Yang sudah menjadi tradisi adalah lomba makan kerupuk dan lomba panjat pinang. Waktu itu, Warell membayangkan betapa menyenangkannya masa kecil neneknya tersebut. Neneknya dapat merasakan kasih sayang sepenuhnya dari orang di sekitarnya dan setiap orang peduli terhadap orang lain. Sedangkan sekarang, hanya terdapat kesuraman, kesunyian, dan kecemasan setiap harinya.
Maka dari itu, ia bertekad besar mengubah dunia ini semampu yang ia bisa. Pertama-tama, ia menulis e-mail kepada perwakilan PBB di Indonesia untuk disampaikan ke kantor PBB pusat di AS. Ia menuliskan segala unek-uneknya tentang dunia, terutama Indonesia, dalam e-mail tersebut. Tentu saja dia juga memberi saran-saran untuk memperbaiki dunia yang sudah di ambang kehancuran ini.
Suatu hari, seminggu setelah e-mailnya dikirim, ia membaca website berita khusus anak-anak—The ChiFacO (The Children Facts For)—dari PDA kesayangannya. Karena, pada masa itu kertas sudah tidak diproduksi lagi karena punahnya pohon-pohon untuk membuat kertas, sehingga setiap orang mempunyai PDA untuk membuka berbagai website di internet.
Ia sangat senang begitu melihat suatu berita yang berjudul Children Cares for Earth: The UNICEF International Program. Artikel itu memuat berita tentang UNICEF—badan PBB untuk anak-anak—yang akan membuat program untuk anak-anak yang berumur 6-17 tahun untuk bekerja sama memperbaiki bumi, karena banyaknya keluhan dari anak-anak di seluruh dunia terhadap keadaan bumi sekarang ini. Pertama-tama, akan digelar konferensi internasional, Earth’s Children International Conference 2025, di kantor pusat UNICEF di AS pada tanggal 11 September, seminggu lagi. Setiap anak di dunia dipersilahkan mengikuti konferensi ini asal berumur 6-17 tahun. Bila ingin ikut, diharapkan segera mengirim e-mail ke e-mail perwakilan UNICEF di negara masing-masing. Setelah itu, mereka akan dikirimi e-mail khusus yang harus mereka tunjukkan di bandara saat mereka akan berangkat. Jadi, mereka tidak membayar tiket pesawat. Program ini juga didukung website berita anak-anak The ChiFacO, organisasi dunia yang mengurus anak-anak di seluruh dunia Wii All Happy 2B Kids Organization, dan perkumpulan atlet di seluruh dunia yang peduli terhadap anak-anak ChiTHA (Children To Healthy with Athlete).
Warell langsung berlari ke kamar kakaknya dan menggedor-gedor pintu kamar kakaknya. Roosaq akhirnya keluar, dengan PDA ditangannya. “Kenapa sih?!” tanya Roosaq pada Warell. “Kak, ada konferensi anak Earth’s Children International Conference 2025 di kantor pusat PBB di AS. Kakak ikut ya, mumpung kakak masih umur 17 tahun, jadi masih boleh…” rengek Warell kepada Roosaq. “Konferensi anak??? Tentang apa, Rel?” tanya kakaknya. “Kakak buka deh website berita anak The ChiFacO, terus baca berita yang judulnya Children Cares for Earth: The UNICEF International Program. Pokoknya baca aja deh…” ujar Warell. Roosaq segera membuka website The ChiFacO, lalu membaca berita yang sudah diberitahu adiknya tersebut. “Hmm…boleh deh! Kita berangkat tanggal 9 aja ya, pas hari Sabtu. Nanti kita Sabtu-Minggu jalan-jalan dulu, Senin-nya pas tanggal 11 kita ikut konferensi, gimana?!” usul Roosaq setelah membaca berita tersebut. “Yeeey… Setuju, kak!” seru Warell bersemangat. Roosaq tersenyum.
Mereka minta ijin dulu dengan nenek dan orang tua mereka, dan mereka diperbolehkan. Malam itu, Warell mengirim berita tersebut ke teman-temannya lewat e-mail, dan ternyata semua teman Warell juga mau ikut.
9 September 2025, pukul 08.00. Warell dan Roosaq sudah berada di bandara sekarang. Mereka sedang menunggu pesawat di ruang tunggu bandara. Roosaq dan Warell sama-sama asyik dengan PDA mereka masing-masing.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, pesawat yang akan mereka tumpangi—Indonesia Airlines—akhirnya datang juga. Mereka segera mengantri masuk ke pesawat dan begitu masuk pesawat mereka duduk di tempat yang sudah mereka pesan.
Pesawat pada jaman itu sudah pesawat supersonik. Jadi, perjalanan ke manapun bisa dalam hitungan menit. Mereka juga mendapat makanan berupa suplemen khusus dan sebotol air putih. Karena pada waktu itu, setiap orang setiap hari mendapat 3 suplemen khusus untuk pengganti makanan, karena pada waktu itu makanan sangatlah langka dan makanan segar hanya diberikan sebulan sekali, itupun hanya cukup untuk satu kali makan. Air putih juga disediakan bersamaan dengan suplemen khusus tersebut, karena mineral satu-satunya zat yang tidak terdapat pada suplemen khusus tersebut.
Selesai makan, pesawat telah mendarat di bandara Washington D.C, ibukota AS. Mereka segera turun dari pesawat, lalu begitu keluar dari bandara naik PRT (Personal Rapid Transport) ke UNICEF Official Hotel, yaitu hotel yang disediakan khusus untuk tamu-tamu UNICEF. Khusus untuk Earth’s Children International Conference 2025, UNICEF menyulap 3 lantai paling atas hotel tersebut dengan mengosongkannya lalu membaginya menjadi dua bagian sama besar dan setiap bagian diberi berpuluh-puluh tempat tidur tingkat. Bagian kanan untuk perempuan, bagian kiri untuk laki-laki. Roosaq dan Warell mendapat bagian lantai nomor 3 paling atas karena mereka datang cepat.
Begitu membereskan barang-barang mereka dan memilih tempat tidur, mereka pun naik PRT berputar-putar keliling Washington D.C. Mereka turun di White House, istana kepresidenan AS, dan mengikuti tur keliling White House dan juga mengunjungi Monumen Washington hingga waktu makan siang. Mereka kembali ke hotel untuk mendapat suplemen khusus dan sebotol air putih, lalu kembali berjalan-jalan naik PRT.
Kali ini mereka berjalan-jalan ke Ford Theatre lalu ke Smithsonian Castle. Tapi tentu saja yang paling menyenangkan adalah ke Smithsonian Air & Space Museum dan Smithsonian Natural History Museum. Di sana mereka puas melihat-lihat koleksi museum yang sangat lengkap. Tempatnya pun sangat nyaman. Warell paling senang ke Smithsonian Natural History Museum, karena di sana ia bisa melihat berbagai binatang yang dulu pernah hidup di bumi. Tentu saja tidak binatang sebenarnya, namun binatang-binatang di situ sangat mirip dengan aslinya. Warell sekali lagi merenungi nasib bumi mereka sekarang ini.
Puas berjalan-jalan, mereka beristirahat di hotel hingga waktu makan malam. Pada saat dibagikan suplemen khusus dan sebotol air putih, sudah ada 10 cewek yang datang termasuk Warell. Warell berkenalan dengan mereka semua, termasuk seorang cewek yang tidur di atasnya pada tempat tidur bertingkat pilihannya. Namanya Smithsa dan dia berasal dari Australia. Mereka pun seumuran, sehingga langsung akrab. Mereka mengobrol asyik tentang tempat tinggal masing-masing dan hobi mereka. Tak ketinggalan juga, tentang nasib bumi sekarang tentunya! Warell juga bercerita tentang perjalanannya tadi berkeliling Washington D.C bersama kakaknya kepada Smithsa. Besok Smithsa dan Warell berencana akan ke Jolly Roger Amusement Park. Jolly Roger Amusement Park adalah taman rekreasi seperti kawasan Ancol di Indonesia. Jolly Roger Amusement Park berada di Ocean City, Maryland, tak begitu jauh dari Washington D.C. Jolly Roger Amusement Park merupakan taman rekreasi terbesar di daerah pantai timur. Permainan di Jolly Roger Amusement Park di antaranya Splash Mountain Water Park dan Speedworld Go-Kart Tracks.
Warell bertanya kepada Roosaq apakah dia mau ikut, tapi Roosaq sudah akan pergi dengan sahabatnya yang juga ikut konferensi tersebut yang sudah datang—Reve—ke Assateague Island di Maryland. Mereka juga akan ke Ocean City, Maryland. Karena mereka berempat sama-sama akan ke Maryland, mereka berencana berangkat bersama-sama naik PRT setelah sarapan sekitar jam 9 pagi.
Warell dan Smithsa sudah di Jolly Roger Amusement Park sekarang. Pertama, mereka berjalan-jalan di Mountain Water Park. Mereka hanya melihat-lihat saja, karena memang tidak mau berenang. Setelah puas melihat berbagai permainan air yang sangat seru, mereka lalu berjalan ke wahana Speedworld Go-Kart Tracks.
“Kamu mau coba naik go-kart di sana?” tanya Smithsa pada Warell saat mereka sampai di Speedworld Go-Kart Tracks. Warell tersenyum, “Ya iyalah! Udah nyampe sini, masa nggak dicoba sih?! Kayaknya seru juga tuh!” jawab Warell sambil mengambil nomer antrian dan mereka pun duduk-duduk sambil melihat para pengunjung lain yang sedang bermain go-kart. Smithsa mengangguk-angguk, “Aku juga ah!” ujarnya. Warell mengangguk menyetujui.
Beberapa menit kemudian, setelah membeli tiket, mereka pun masuk ke arena go-kart tersebut. Mereka memakai baju khusus, helm, dan berbagai pengaman lainnya. Setelah semua terpasang, mereka menaiki go-kart.
Mereka bermain go-kart dengan seru sekali! Saling menyalip dan cepat-cepatan menjelang finish. Akhirnya, Smithsa berhasil finish duluan dengan perbedaan waktu yang sangat tipis.
Setelah capek bermain go-kart mereka memutuskan beristirahat dulu sekalian makan siang. Setelah melahap suplemen khusus dan menghabiskan sebotol air putih, mereka kembali berjalan-jalan. Mereka menaiki berbagai wahana yang memang biasa terdapat di taman rekreasi. Mereka naik berbagai wahana lainnya, termasuk Schwarzkopf Wildcat roller coaster. Setelah capek, mereka memutuskan untuk pulang ke hotel dengan PRT. Mereka harus bersiap-siap untuk konferensi besok.
Malamnya, Warell sibuk membuat karya tulis yang akan dia bacakan di konferensi nanti di PDA-nya. Sebetulnya ia sudah membuatnya sejak di Indonesia, namun ia ingin memastikan karya tulisnya benar-benar sempurna. Karya tulisnya berbahasa Inggris dan berjudul Children in Action.
Keesokan harinya, Warell bangun pagi-pagi. Ia bangun dengan sangat bersemangat. Setelah berganti baju dengan baju terbaiknya, ia lalu sarapan dengan cepat. Setelah itu, ia pun naik PRT dengan Smithsa, Roosaq, dan Reve menuju kantor pusat UNICEF. Anak-anak lainnya pun juga naik dengan PRT.
Dan, sampailah Warell di kantor pusat UNICEF. Kantor yang megah dan berteknologi tinggi namun ramah lingkungan ini begitu mencolok di antara gedung-gedung pencakar lainnya di sekelilinya. Warnanya yang hijau mencolok membuatnya terlihat beda dan mudah dikenali sebagai kantor pusat UNICEF. Jendela-jendelanya pun dilukisi berbagai wajah anak-anak di seluruh dunia hingga membentuk gambar besar berbentuk logo UNICEF. Warell belum pernah ke sini sebelumnya, dan ia sangat kagum dengan gedung tersebut.
Begitu masuk ke gedung tersebut, mereka disambut pemandangan yang sangat unik. Lobby utama gedung ini dihias sedimikian rupa sehingga mirip hutan-hutan yang sering dilihat Warell di buku-buku ensiklopedia dan dibuat seceria mungkin. Rombongan besar tersebut lalu digiring ke auditorium utama.
Warell segera mengambil tempat duduk di sebelah Smitsa dan Roosaq. Setelah semua anak yang ikut konferensi sudah mendapat tempat duduk di auditorium, seorang laki-laki memakai jas lengkap naik panggung. Ia ternyata MC-nya. “Hai semua!!!” sapa MC itu ramah. Kami semua membalas sapaannya. “Wah, kayaknya bersemangat semua ya! Semua sudah siap kan, dengan karya tulisnya?! Oke deh, kita sambut…Mr. Robert Palling-de Law!!!” seru MC tersebut. Warell bertepuk tangan dengan riuh diikuti yang lainnya, karena ia tahu Mr. Robert Palling-de Law adalah ketua UNICEF.
Mr.Robert memberi sambutan hangat dan berpidato sebentar tentang kepentingan mereka menggelar konferensi ini dan tentang program UNICEF lebih dalam lagi. Warell mendengarkan dengan sungguh-sungguh perkataan Mr.Robert.
“Baiklah semua, sekarang kita mulai saja konferensi hari ini!” ujar Mr.Robert akhirnya. “Oke, sekarang silahkan buka website UNICEF, www.unicef.org, dan silahkan copy-paste karya tulis kalian di menu Earth’s Children International Conference 2025. Silahkan!” lanjut Mr.Robert. Warell segera meng-copy paste karya tulisnya ke menu tersebut, begitu pula dengan anak-anak lainnya. “Oke, bila sudah meng-copy paste karya tulisnya semua, baiklah, siapa yang mau membacakan pertama kali??” tawar Mr.Robert. Warell segera mengacungkan jarinya. “Yah, silahkan…” “Warell, Sir!” jawab Warell cepat. “Oke Warell, silah…” tiba-tiba kata-kata Mr.Robert terhenti karena terdengar bunyi yang sangat keras dari luar.
Anak-anak segera heboh dan berebutan melihat keluar jendela. Di langit, terlihat bom nuklir yang telah ditembakkan jatuh tepat menuju gedung UNICEF tersebut. Anak-anak langsung panik dan berebutan keluar dari auditorium. Namun belum sempat seseorang pun keluar dari gedung, bom nuklir telah jatuh tepat di atasa gedung tersebut dengan bunyi berdebum keras, diiringi ledakan tak bersuara yang sangat dahsyat. Dalam sekejap, gedung UNICEF dan semua gedung di daerah situ hancur dan tak ada seorang pun yang selamat dari serangan mengejutkan tersebut, anak-anak para peserta konferensi dan petinggi-petinggi UNICEF yang sedang berusaha menyelamatkan bumi.
Peristiwa tersebut langsung menjadi berita utama di semua website berita. Perang pun langsung terhenti begitu mengetahui seluruh anak-anak di bumi tewas dalam kejadian tersebut karena seluruh anak di seluruh dunia mengikuti konferensi tersebut. Seluruh negara bekerja sama mencari siapa otak dibalik bom nuklir mengejutkan tersebut.
Setelah ditangkap pelakunya, seluruh dunia sepakat menghentikan perang nuklir selamanya dan mulai peduli terhadap bumi. Namun sayangnya, bumi sudah terlalu parah kerusakaannya sehingga manusia yang tersisa pun terpaksa diungsikan ke planet lain yang mirip dengan bumi namun jauh lebih indah bumi. Di bumi terdapat tugu peringatan yang dibangun persis di atas reruntuhan bangunan gedung UNICEF. Di planet baru tersebut, mereka juga membangun tugu peringatan di kantor pusat pemerintahan.
Akhirnya, tanggal 11 September diperingati sebagai hari berkabung seluruh dunia. Dan sebetulnya, tanggal 11 September sudah diperingati sebagai hari berkabung seluruh AS sejak tahun 2001, karena terjadi pengeboman menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001...
Semoga, apa yang terjadi di cerita ini tidak terjadi di dunia nyata. Maka dari itu, marilah kita jaga dan rawat bumi kita tercinta ini... Stop Global Warming, Let's Go Green!!!
Saturday, August 1, 2009
Best Friends of Me (Neferdan)
Aku punya sahabat-sahabat di sekolah. Mereka adalah Anind, Nia, Lona, Aam, Habibie, Davy, dan Asa. Kami sahabatan sejak kelas 5, sampai sekarang kami kelas 6. Awalnya sih, aku, Anind, Lona, Aam, dan Asa satu kelompok SBK buat bikin boneka tali. Nama kelompok kami Neferdan. Show kami sukses, tentang konflik Israel-Palestina. Habis itu, kita jadi deket. Terus, pas ultah Anind, Anind mengundang Neferdan, juga Nia, Habibie, Davy, Panta, dan Yusa. Kami jadi deket deh, kecuali Panta dan Yusa. Kita sering nonton bareng, dan di sekolah juga sering ngobrol bareng. Udah jadi kayak tradisi sejak ultah Anind, anggota Neferdan (yang sekarang tambah Nia, Habibie dan Davy) buat ngerayain ultah sambil traktir anggota yang lain, tapi biasanya tambah Panta dan Yusa soalnya biar pas 10 orang. Banyak pengalaman Neferdan yang seru. Salah satunya, pas ultah Anind. Kita ditraktir Anind di warung di dekat rumahnya. Enak deh! Ada juga pas ultah Davy sama Aam yang kebetulan cuma beda sehari. Dirayainnya nggak rame-rame, cuma ditraktir nonton film Ice Age sama makan di warung deket situ. Seru deh pas nonton, filmnya lucu banget! Tadinya pas beli tiket, kita khawatir soalnya deret duduknya cuma nyampe 8, tapi untungnya ada yang 10, jadi kita bisa duduk satu deret. Yang paling pojok Aam, terus Davy, aku, Yusa, Habibie, Anind, Nia, Asa, Lona dan yang terakhir Panta. Minumnya Anind sampe tumpah lho! Terus serunya, pas di tengah-tengah film, kadonya dikasih ke mereka. Seru banget deh, mereka kaget! Banyak...banget pengalaman seru Neferdan. Jadi sedih nih, nanti waktu udah lulus SMP-nya bakal bareng nggak ya?! Ah, insyaallah bareng deh, Neferdan always coloring my life! Apalagi, inget waktu mereka urunan kasih aku kado buku yang udah lama aku idam-idamin, Beedle The Bard, sama stiker besar Arsenal, klub bola favoritku. Thank you so much, Neferdan!!!
Best Friends of Me (AKKADAAL)
Punya sahabat tuh enak, seru! Aku juga punya sahabat, namanya Astrid dan Amel. Kami sama adikku bikin gank AKKADAAL. Kita sering ngumpul di rumah Astrid-Amel (yang emang kakak-adik)pas hari Kamis, jadi seminggu sekali pasti maen bareng. Kita sering main bulu tangkis (kita kompakan beli raket bareng lho!), buaya-buayaan, volibuta (mainan ciptaan kami sendiri.), dan masih banyak deh! Kita juga bikin majalah dan perpustakaan. Majalah itu namanya Tijd Schrift (bhs.Belanda-nya majalah) dan terbit sebulan sekali. Kalau perpustakaannya namanya Bibliotheek (bhs.Belanda-nya perpustakaan), buka tiap Kamis di rumah Astrid-Amel. Wah, seru banget deh... Kita juga sama-sama suka nonton Idola Cilik dan sinetron Doo Bee Doo (sekarang udah nggak ada). Bahkan, kita sering pura-pura jadi para pemain Doo Bee Doo dan bikin jalan ceritanya sendiri. Kita sering liburan bareng juga, seringnya sih ke Solo ke hotel Lor Inn. Kami juga punya seragam lho, kaos pink gambar banteng (yang jadi lambang AKKADAAL) dan ada angka 23-nya dan celana jeans (tapi beda-beda modelnya soalnya kalau cari yang sama sulit ukurannya). Kita juga bikin lagu AKKADAAL, dan kompakan beli baju bola bareng. Oya, satu lagi, seminggu 2 kali kita les bahasa Belanda di rumahku, gurunya privat dari Karta Pustaka. Namanya Meneer Bowo, tapi terus ganti Mavrouw Vini. Seru deh, les bahasa Belanda bareng-bareng, sambil main-main juga! Sayangnya, sekarang Astrid-Amel udah pindah ke Belanda, menyusul ibunya yang sekolah di sana. Untungnya kita masih sering kontak, lewat FB dan blog. Kita seneng banget deh, apalagi Astrid-Amel bentar lagi pulang ke Indonesia lagi. AKKADAAL reuni deh...
Saturday, July 11, 2009
Rasa Nasionalisme Virra
Virra memandang remeh berita di koran yang berjudul Uber Cup Kembali Milik China. Lalu ada headline news yang bertuliskan Walaupun sudah mendapat dukungan penuh suporter, pemain putri Indonesia tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi China di final Uber Cup 2008. Indonesia kalah telak 0-3 dari China. Namun, masuk final sudah cukup membanggakan karena tim Uber Cup Indonesia tidak memiliki target sampai ke final. Malahan, tim Thomas Cup Indonesia yang ditargetkan masuk final hanya dapat sampai semifinal setelah dikalahkan Korea Selatan.. Setelah selesai membaca, ia lalu membanting koran itu ke mejanya.
Teman-temannya memandangnya geram. “Hey, see right?! Walaupun kalian sudah memberi dukungan begitu semangatnya, Indonesia juga kalah, kan?! See the facts! Teriakan kalian itu nggak berguna buat mereka, cuma membuat mereka jadi hilang konsentrasi dan jadinya malah kalah, kan?!” ujar Virra memandang teman-temannya berani. “Hei, jangan gitu dong! Hargai kita dikit! Tau nggak, dukungan suporter itu paling penting buat Indonesia! Suporter itu udah kayak bagian dari tim!” sentak Renata, salah satu teman Virra, galak. Virra hanya tersenyum meremehkan. Renata dan teman-temannya yang lain lalu pergi sambil mendengus kesal.
Virra selalu dibenci teman-temannya, karena selalu meremehkan negaranya sendiri, Indonesia. Ia hanya suka meremehkan teman-temannya yang begitu bersemangat mendukung Indonesia, malah ternyata Indonesia kalah, lagi. Virra dikenal teman-temannya sebagai anak yang sombong, sok bule, tapi pintar dalam pelajaran fisika, biologi, dan kimia. Virra bisa dibilang jenius di bidang fisika, biologi, dan kimia. Tapi, sama sekali tidak ada teman-temannya yang mau menjadi temannya. Karena, Virra selalu meremehkan Indonesia. Bisa dibuktikan, dia nggak pernah mendukung Indonesia di kejuaraan manapun dan selalu membeli barang-barang bermerk dari luar negeri. Selain itu kalau bicara selalu dicampur-campur dengan bahasa Inggris. Kelihatan banget kalau nggak cinta Indonesia.
Suatu hari, wali kelas Virra, Bu Lisa, mengumumkan sesuatu. “Pagi anak-anak!” sapa Bu Lisa. “Pagi, Bu!” jawab anak-anak serempak. Bu Lisa lalu membagikan ulangan fisika minggu lalu. Seperti biasa, Virra mendapat nilai sempurna, A+! Virra tersenyum memandang ulangannya. Sementara teman-temannya memandangnya dengki. Virra tidak mempedulikannya.
“Nah, kalian semua sudah mendapat hasil ulangan fisika kalian. Ulangan biologi, kimia, dan bahasa Prancis, akan dibagi besok.” ujar Bu Lisa sambil berdiri di depan kelas. “Baiklah, Ibu ada pengumuman! Akan ada lomba membuat robot sederhana tingkat nasional di Jakarta minggu depan. Setiap provinsi berhak mengirimkan satu wakil. Provinsi Yogyakarta akan menyeleksi semua murid dari SD-SD di Yogyakarta. Setiap SD diwakili 1 murid. SD kita memilih Virra Sanja sebagai wakil. Baiklah, Virra, ayo maju ke depan!” panggil Bu Lisa.
Virra tersenyum senang, lalu maju ke depan. Bu Lisa menunggu aplaus dari murid-murid lain, namun tak ada satu pun tepukan yang terdengar. “Ayo, mana aplausnya?!” seru Bu Lisa. Terdengar tepukan pelan dan sebentar dari penjuru kelas, lalu sunyi kembali. Virra mengedikkan bahu, ia sudah biasa dibenci teman-teman sekelasnya. “Baiklah, kalian mengerjakan tugas yang sudah Ibu tulis di papan tulis! Ibu akan mengantar Virra ke kantor kepala sekolah.” pamit Bu Lisa. Anak-anak pun sibuk membuka buku mereka, lalu mulai mengerjakan tugas. Bu Lisa lalu menggiring Virra ke kantor kepala sekolah.
Di kantor kepala sekolah, ia diberi pengarahan oleh kepala sekolah dan diberi tahu ketentuan-ketentuan lombanya. Virra tersenyum senang, ia bangga bisa menjadi wakil dari SD-nya, SD Nasional Plus Tunas Bangsa.
Sesampainya di rumah, Virra langsung mengabarkan orang tuanya tentang berita gembira itu. “Hey, Mom, Dad, guess what?! Aku jadi wakil sekolah buat seleksi untuk lomba nasional dari provinsi Yogyakarta. I’m really sure, I’ll be the best!” ujar Virra bangga di hadapan orang tuanya saat makan malam. “Oh, hebat banget, ya Virra! Tapi kamu harus latihan keras, lho!” puji ayahnya. Ibunya mengangguk senang, “Iya, ibu setuju!.
Seleksinya akan berlangsung 3 minggu lagi. Virra sangat sibuk mencari ide ke sana kemari untuk robot buatannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuat robot yang dapat memindahkan barang-barang dengan cepat, sederhana namun berguna. Bahkan, untuk membuat robotnya sempurna, ia berhenti les-les dulu sementara. Ia hanya fokus pada robot buatannya.
3 hari menjelang seleksi, Virra selesai membuat robotnya. Ia lalu membuat laporan tentang robotnya, memfoto robotnya, lalu mengirimnya ke panitia seleksi itu beserta biodatanya dan fotonya sendiri.
Virra sukses besar! Ia lolos seleksi untuk mewakili provinsi Yogyakarta untuk lomba tingkat nasional. Ia akan bersaing dengan peserta lain dari 32 provinsi lain di Indonesia. Pemenang pertama akan mewakili Indonesia di tingkat internasional. Ternyata, robot buatan Virra menang lagi di tingkat nasional. Virra senang bukan main, selain bangga tentunya! Untuk lomba tingkat internasional, ia membuat robot yang lebih canggih dengan sedikit bantuan guru-gurunya di sekolah.
Akhirnya, hari H pun tiba. Virra sudah siap di tempat lomba yang lokasinya di Interlaken, Swiss. Nama lombanya The International Robotic Contest Elementary School Stage. Virra memastikan robotnya sudah siap berkali-kali. Ia juga ditemani orang tuanya serta ketua panitia lomba nasional waktu itu, Pak Herra. Virra membuat robot berbentuk laba-laba yang dapat melakukan segala hal yang biasa dilakukan laba-laba, bahkan membuat sarang dari jaring juga, walaupun dengan kecepatan yang jauh berbeda.
“Hey, what’s up all?!” sapa pembawa acara itu. Terdengar teriakan penonton. “No…I can’t hear you. C’mon, louder!!!” teriak pembawa acara itu lagi. Terdengar teriakan yang lebih keras dari bangku penonton. Virra semakin gugup, apalagi dia tahu teman-teman sekolahnya pasti sedang menontonnya di TV sekolah bersama guru-guru juga! “Yeah, yeah, that’s what I mean! Ok, now, one by one, the participants shows how their robot works. Ready??? Ok, the first…” ujar pembawa acara itu. Virra tak henti-hetinya berdoa dalam hati, ia mendapat urutan nomer 8.
Peserta nomer 1-6 sudah tampil. Sekarang peserta nomer 7, Gretl van Vrijks, peserta dari Belanda. Ia tampil dengan sukses selama sekitar 3 menit. Sekarang, giliran Virra. Virra semakin gugup. Keringatnya mengucur deras. Ia gemetaran menggenggam robotnya. “Ok, the 8th participants, is from Indonesia. We welcome…Virra Sanja!!!” panggil pembawa acara itu. Terdengar tepuk tangan riuh. Virra mengusap peluhnya, lalu maju ke depan sambil membawa robotnya serta remote control.
Pertama-tama, ia menjelaskan cara kerja robotnya. Ia sudah lancar berbahasa Inggris karena ia selalu berbicara dengan bahasa Inggris dengan kakek-neneknya yang masih keturunan orang Eropa. Setelah itu, ia meletakkan robotnya di lantai. Ia mulai menggerakan robotnya itu menggunaka remote control yang dipegangnya. Virra merasa rileks lagi, ini seperti main game! Selesailah presentasi Virra. Ia mendapat apalaus yang meriah dari penonton. Ia lalu kembali lagi ke belakang panggung.
Acara itu berlangsung hampir 2 jam, karena banyaknya peserta yang ikut. Virra sampai kecapekan menunggu di belakang panggung. Akhirnya, waktunya pengumuman pemenang. Virra berdiri gelisah di belakang panggung sambil berkali-kali mengelap keringatnya yang bercucuran.
“Alright, guys! We all already see all the participants’s robot. It’s all brilliant, remember they still in elementary school. Ok, so now, I will announce the winner. From the 3rd winner, is…” pembawa acara itu berhenti sebentar, “Gretl van Vrijks from Netherland!!!” teriak pembawa acara itu. Terdengar tepukan tanga riuh dari bangku penonton saat Gretl keluar sambil membawa robotnya. “Ok, congrats Gretl! So, the 2nd winner is…” pembawa acara itu lagi-lagi berhenti sebentar. Virra berdoa khusyuk dalam hati, juara 2 sudah sangat membanggakan baginya! “Marylynn Roberts from United States!!!” panggil pembawa acara itu. Terdengar tepukan tangan lagi saatn Marylynn maju ke depan panggung. Virra menghela nafas pasrah, mungkin ini bukan keberuntungannya. “Ok, the true winner, the 1st winner is Virra Sanja from Indonesia!!!!!” kali ini pembawa acara justru tidak berhenti sebentar. Virra terlonjak terkejut. Ia tidak mengira akan juara satu.
Virra merasa air matanya meleleh saat ia mendapat piala itu. Ia mengangkat piala itu tinggi-tinggi sambil berteriak, “Indonesia!!!”. Terdengar tepukan meriah dari penonton, lalu mereka membeo Virra, “Indonesia!!!”. “Ok, Virra, will give some speech?” tanya pembawa acara itu. Virra mengangguk sambil mengambil mike dari tangan pembawa acara itu. “I am never dream I will win in international robotic contest! Well, I really like chemistry and physics, but robot? Oh…never! I want to say thank you to all people that helps me so that I can have here. Thank you!!! And…I want to say something to my classmates. Guys, you always said that I didn’t proud of Indonesia. But know this, if you really proud of your nations show it by achievement that make Indonesia proud, not just shout support for the Indonesian team. So, know that I’m here, I’m here represent Indonesia. And also represent all Indonesian people that really proud of Indonesia. I’m really proud of Indonesia. Go Indonesia!!!” ujar Virra memberi pidato. Tepuk tangan riuh bergema di seluruh ruangan.
Pembawa acara itu lalu menyalaminya sambil menepuk pundaknya. Lalu, ada ketua acara itu, Mr.Donn, yang memberinya salaman hangat dan senyuman hangat. Virra merasa sangat senang. Ia akhirnya bisa menunjukkan pada teman-temannya, rasa nasionalismenya.
Teman-temannya memandangnya geram. “Hey, see right?! Walaupun kalian sudah memberi dukungan begitu semangatnya, Indonesia juga kalah, kan?! See the facts! Teriakan kalian itu nggak berguna buat mereka, cuma membuat mereka jadi hilang konsentrasi dan jadinya malah kalah, kan?!” ujar Virra memandang teman-temannya berani. “Hei, jangan gitu dong! Hargai kita dikit! Tau nggak, dukungan suporter itu paling penting buat Indonesia! Suporter itu udah kayak bagian dari tim!” sentak Renata, salah satu teman Virra, galak. Virra hanya tersenyum meremehkan. Renata dan teman-temannya yang lain lalu pergi sambil mendengus kesal.
Virra selalu dibenci teman-temannya, karena selalu meremehkan negaranya sendiri, Indonesia. Ia hanya suka meremehkan teman-temannya yang begitu bersemangat mendukung Indonesia, malah ternyata Indonesia kalah, lagi. Virra dikenal teman-temannya sebagai anak yang sombong, sok bule, tapi pintar dalam pelajaran fisika, biologi, dan kimia. Virra bisa dibilang jenius di bidang fisika, biologi, dan kimia. Tapi, sama sekali tidak ada teman-temannya yang mau menjadi temannya. Karena, Virra selalu meremehkan Indonesia. Bisa dibuktikan, dia nggak pernah mendukung Indonesia di kejuaraan manapun dan selalu membeli barang-barang bermerk dari luar negeri. Selain itu kalau bicara selalu dicampur-campur dengan bahasa Inggris. Kelihatan banget kalau nggak cinta Indonesia.
Suatu hari, wali kelas Virra, Bu Lisa, mengumumkan sesuatu. “Pagi anak-anak!” sapa Bu Lisa. “Pagi, Bu!” jawab anak-anak serempak. Bu Lisa lalu membagikan ulangan fisika minggu lalu. Seperti biasa, Virra mendapat nilai sempurna, A+! Virra tersenyum memandang ulangannya. Sementara teman-temannya memandangnya dengki. Virra tidak mempedulikannya.
“Nah, kalian semua sudah mendapat hasil ulangan fisika kalian. Ulangan biologi, kimia, dan bahasa Prancis, akan dibagi besok.” ujar Bu Lisa sambil berdiri di depan kelas. “Baiklah, Ibu ada pengumuman! Akan ada lomba membuat robot sederhana tingkat nasional di Jakarta minggu depan. Setiap provinsi berhak mengirimkan satu wakil. Provinsi Yogyakarta akan menyeleksi semua murid dari SD-SD di Yogyakarta. Setiap SD diwakili 1 murid. SD kita memilih Virra Sanja sebagai wakil. Baiklah, Virra, ayo maju ke depan!” panggil Bu Lisa.
Virra tersenyum senang, lalu maju ke depan. Bu Lisa menunggu aplaus dari murid-murid lain, namun tak ada satu pun tepukan yang terdengar. “Ayo, mana aplausnya?!” seru Bu Lisa. Terdengar tepukan pelan dan sebentar dari penjuru kelas, lalu sunyi kembali. Virra mengedikkan bahu, ia sudah biasa dibenci teman-teman sekelasnya. “Baiklah, kalian mengerjakan tugas yang sudah Ibu tulis di papan tulis! Ibu akan mengantar Virra ke kantor kepala sekolah.” pamit Bu Lisa. Anak-anak pun sibuk membuka buku mereka, lalu mulai mengerjakan tugas. Bu Lisa lalu menggiring Virra ke kantor kepala sekolah.
Di kantor kepala sekolah, ia diberi pengarahan oleh kepala sekolah dan diberi tahu ketentuan-ketentuan lombanya. Virra tersenyum senang, ia bangga bisa menjadi wakil dari SD-nya, SD Nasional Plus Tunas Bangsa.
Sesampainya di rumah, Virra langsung mengabarkan orang tuanya tentang berita gembira itu. “Hey, Mom, Dad, guess what?! Aku jadi wakil sekolah buat seleksi untuk lomba nasional dari provinsi Yogyakarta. I’m really sure, I’ll be the best!” ujar Virra bangga di hadapan orang tuanya saat makan malam. “Oh, hebat banget, ya Virra! Tapi kamu harus latihan keras, lho!” puji ayahnya. Ibunya mengangguk senang, “Iya, ibu setuju!.
Seleksinya akan berlangsung 3 minggu lagi. Virra sangat sibuk mencari ide ke sana kemari untuk robot buatannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuat robot yang dapat memindahkan barang-barang dengan cepat, sederhana namun berguna. Bahkan, untuk membuat robotnya sempurna, ia berhenti les-les dulu sementara. Ia hanya fokus pada robot buatannya.
3 hari menjelang seleksi, Virra selesai membuat robotnya. Ia lalu membuat laporan tentang robotnya, memfoto robotnya, lalu mengirimnya ke panitia seleksi itu beserta biodatanya dan fotonya sendiri.
Virra sukses besar! Ia lolos seleksi untuk mewakili provinsi Yogyakarta untuk lomba tingkat nasional. Ia akan bersaing dengan peserta lain dari 32 provinsi lain di Indonesia. Pemenang pertama akan mewakili Indonesia di tingkat internasional. Ternyata, robot buatan Virra menang lagi di tingkat nasional. Virra senang bukan main, selain bangga tentunya! Untuk lomba tingkat internasional, ia membuat robot yang lebih canggih dengan sedikit bantuan guru-gurunya di sekolah.
Akhirnya, hari H pun tiba. Virra sudah siap di tempat lomba yang lokasinya di Interlaken, Swiss. Nama lombanya The International Robotic Contest Elementary School Stage. Virra memastikan robotnya sudah siap berkali-kali. Ia juga ditemani orang tuanya serta ketua panitia lomba nasional waktu itu, Pak Herra. Virra membuat robot berbentuk laba-laba yang dapat melakukan segala hal yang biasa dilakukan laba-laba, bahkan membuat sarang dari jaring juga, walaupun dengan kecepatan yang jauh berbeda.
“Hey, what’s up all?!” sapa pembawa acara itu. Terdengar teriakan penonton. “No…I can’t hear you. C’mon, louder!!!” teriak pembawa acara itu lagi. Terdengar teriakan yang lebih keras dari bangku penonton. Virra semakin gugup, apalagi dia tahu teman-teman sekolahnya pasti sedang menontonnya di TV sekolah bersama guru-guru juga! “Yeah, yeah, that’s what I mean! Ok, now, one by one, the participants shows how their robot works. Ready??? Ok, the first…” ujar pembawa acara itu. Virra tak henti-hetinya berdoa dalam hati, ia mendapat urutan nomer 8.
Peserta nomer 1-6 sudah tampil. Sekarang peserta nomer 7, Gretl van Vrijks, peserta dari Belanda. Ia tampil dengan sukses selama sekitar 3 menit. Sekarang, giliran Virra. Virra semakin gugup. Keringatnya mengucur deras. Ia gemetaran menggenggam robotnya. “Ok, the 8th participants, is from Indonesia. We welcome…Virra Sanja!!!” panggil pembawa acara itu. Terdengar tepuk tangan riuh. Virra mengusap peluhnya, lalu maju ke depan sambil membawa robotnya serta remote control.
Pertama-tama, ia menjelaskan cara kerja robotnya. Ia sudah lancar berbahasa Inggris karena ia selalu berbicara dengan bahasa Inggris dengan kakek-neneknya yang masih keturunan orang Eropa. Setelah itu, ia meletakkan robotnya di lantai. Ia mulai menggerakan robotnya itu menggunaka remote control yang dipegangnya. Virra merasa rileks lagi, ini seperti main game! Selesailah presentasi Virra. Ia mendapat apalaus yang meriah dari penonton. Ia lalu kembali lagi ke belakang panggung.
Acara itu berlangsung hampir 2 jam, karena banyaknya peserta yang ikut. Virra sampai kecapekan menunggu di belakang panggung. Akhirnya, waktunya pengumuman pemenang. Virra berdiri gelisah di belakang panggung sambil berkali-kali mengelap keringatnya yang bercucuran.
“Alright, guys! We all already see all the participants’s robot. It’s all brilliant, remember they still in elementary school. Ok, so now, I will announce the winner. From the 3rd winner, is…” pembawa acara itu berhenti sebentar, “Gretl van Vrijks from Netherland!!!” teriak pembawa acara itu. Terdengar tepukan tanga riuh dari bangku penonton saat Gretl keluar sambil membawa robotnya. “Ok, congrats Gretl! So, the 2nd winner is…” pembawa acara itu lagi-lagi berhenti sebentar. Virra berdoa khusyuk dalam hati, juara 2 sudah sangat membanggakan baginya! “Marylynn Roberts from United States!!!” panggil pembawa acara itu. Terdengar tepukan tangan lagi saatn Marylynn maju ke depan panggung. Virra menghela nafas pasrah, mungkin ini bukan keberuntungannya. “Ok, the true winner, the 1st winner is Virra Sanja from Indonesia!!!!!” kali ini pembawa acara justru tidak berhenti sebentar. Virra terlonjak terkejut. Ia tidak mengira akan juara satu.
Virra merasa air matanya meleleh saat ia mendapat piala itu. Ia mengangkat piala itu tinggi-tinggi sambil berteriak, “Indonesia!!!”. Terdengar tepukan meriah dari penonton, lalu mereka membeo Virra, “Indonesia!!!”. “Ok, Virra, will give some speech?” tanya pembawa acara itu. Virra mengangguk sambil mengambil mike dari tangan pembawa acara itu. “I am never dream I will win in international robotic contest! Well, I really like chemistry and physics, but robot? Oh…never! I want to say thank you to all people that helps me so that I can have here. Thank you!!! And…I want to say something to my classmates. Guys, you always said that I didn’t proud of Indonesia. But know this, if you really proud of your nations show it by achievement that make Indonesia proud, not just shout support for the Indonesian team. So, know that I’m here, I’m here represent Indonesia. And also represent all Indonesian people that really proud of Indonesia. I’m really proud of Indonesia. Go Indonesia!!!” ujar Virra memberi pidato. Tepuk tangan riuh bergema di seluruh ruangan.
Pembawa acara itu lalu menyalaminya sambil menepuk pundaknya. Lalu, ada ketua acara itu, Mr.Donn, yang memberinya salaman hangat dan senyuman hangat. Virra merasa sangat senang. Ia akhirnya bisa menunjukkan pada teman-temannya, rasa nasionalismenya.
Tuesday, July 7, 2009
Pekan Raya Jakarta (PRJ)
Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau juga dikenal sebagai Jakarta Fair adalah pekan raya tradisi tahunan pemprov DKI Jakarta untuk menyemarakan hari ulang tahun Jakarta yang jatuh pada tanggal 22 Juni. Walaupun namanya pekan, namun PRJ dapat berlangsung hingga sebulan.
Saya yang belum pernah ke PRJ sebelumnya tertarik untuk datang ke PRJ tahun ini. Sayangnya, saya pergi ke sana bukan tepat tanggal 22 Juni, tapi tanggal 4 Juli. Saya sampai di sana pada pukul 10.00 pagi. Namun, PRJ sudah ramai walaupun cuaca sangat panas. Setelah membeli tiket, saya pun masuk ke PRJ.
Ada banyak sekali stan di PRJ yang dibagi menjadi outdoor dan indoor. Yang indoor lalu dibagi menjadi beberapa gedung. Pertama saya masuk, saya masuk ke salah satu gedung. Gedung itu berisi stan-stan peralatan olahraga. Saat saya keluar gedung, saya melihat stan Yamaha yang memamerkan motor balap Valentino Rossi—pembalap terkenal Moto GP—yang dapat difoto-foto pengunjung.
Setelah ke stan Yamaha, saya lalu masuk ke gedung lain. Di dalam gedung itu saya langsung disambut model tiruan sebuah stasiun modern. Ternyata, di Jakarta akan dibangun jalur MRT (Mass Rapid Transit). Tentu saja ini kabar gembira bagi penduduk Jakarta, karena MRT adalah sarana transportasi umum modern yang sudah ada duluan di negara-negara maju. Apalagi ada jalur under ground juga alias jalur bawah tanah. Sayangnya, proyek MRT ini baru mulai dibangun pada tahun 2011. Selain itu, dana dan teknologinya berasal dari Jepang, jadi belum 100% buatan Indonesia sendiri. Namun, tetap saja itu kabar yang baik dan semoga proyeknya dapat berjalan dengan lancar.
Saya lalu keliling gedung lagi. Saya menemukan kaktus-kaktus mini yang ditanam di pot kecil yang diberi hiasan mata mainan dan lainnya sehingga seperti orang-orangan. Sayang sekali saya lupa bertanya berapa harganya.
Ada satu stan yang menarik perhatian saya, yaitu stan stasiun Tugu Jogjakarta, begitu tulisannya. Saya yang memang orang Jogja langsung melihat-lihat di stan itu. Stan itu memamerkan kerajinan-kerajinan tradisional Jogja. Yang menarik perhatian saya adalah kerajinan dari akar wangi. Akar itu dibentuk menjadi berbagai model binatang, salah satunya kuda. Baunya pun wangi seperti aroma terapi. Ada pula yang dibentuk seperti laba-laba kecil yang ada magnetnya sehingga dapat menjadi hiasan kulkas.
Setelah puas melihat-lihat di stan itu, saya berjalan lagi. Saya menemukan stan yang memamerkan tas ransel polos berwarna biru dan merah muda yang dilukis sendiri gambar-gambar bunga. Di sebelah stan itu ada stan yang memamerkan labi-labi atau kura-kura Brasil. Sebetulnya bentuknya mirip kura-kura biasa, tapi corak cangkangnya yang berbeda. Banyak pula stan yang memamerkan berbagai macam lukisan abstrak dan miniatur model sepeda kuno, becak, dan delman.
Di situ juga ada rumah pohon yang unik karena terbuat dari batang kelapa sehingga kayunya bersabut. Ada pula permainan catur raksasa lengkap dengan pion-nya yang papannya bermotif batik.
Di gedung lain, terdapat pameran komputer yang memamerkan berbagai macam peralatan komputer seperti monitor, keyboard, CPU, speaker, dan lainnya. Di outdoor, ada pula pameran distro yang memamerkan kaos-kaos khas distro. Ada pula sepeda lipat yang bentuknya unik di stan United Bike dan Polygon.
Terakhir, saya masuk ke gedung yang isinya baju-baju, sepatu-sepatu, dan tas-tas yang didiskon. Ada satu stan yang memamerkan kaos-kaos yang bertuliskan kalimat-kalimat lucu untuk anak kecil hingga orang dewasa. Beberapa stan khusus memamerkan pakaian bola, dari baju bola biasa hingga jaket dengan logo klub bola masing-masing. Tapi, sebagian besar stan memamerkan kaos-kaos cewek yang gambarnya artis-artis mancanegara maupun dalam negeri, salah satunya model cantik yang sedang terkenal saat ini karena kasus yang menimpanya, Manohara Odelia Pinot. Kalau sepatu-sepatu, kebanyakan stan memamerkan sepatu Crocs palsu berbagai ukuran dan model. Stan yang memamerkan tas-tas pun juga tidak kalah banyak.
Tak ketinggalan pula, di dekat gedung itu ada foodcourt yang lumayan lengkap. Saya pun makan di situ karena sudah capek berkeliling PRJ.
Di PRJ terdapat pula tempat bermain untuk anak-anak seperti di pasar malam, salah satunya rumah hantu. Tadinya saya mau masuk ke situ bersama tante dan adik sepupu. Tapi, ternyata sewaktu melihat tempatnya yang sangat gelap, adik sepupu saya langsung menangis dan tidak mau masuk. Akhirnya, karena sudah membeli 3 tiket yang 1 tiket berharga Rp 10.000,00, saya masuk ke rumah hantu bersama tante dan adik saya.
Selesai sudah kunjungan saya di PRJ. Walaupun masih banyak stan yang belum dikunjungi karena PRJ yang begitu luas, saya tetap senang. Jadi teman-teman, ayo datang ke PRJ! Tapi sebaiknya datang ke sana pas tanggal 22 Juni. Karena, walaupun sangat ramai, tapi lebih banyak atraksi. Seperti ondel-ondel dan berbagai parade. Selamat berwisata!
Saya yang belum pernah ke PRJ sebelumnya tertarik untuk datang ke PRJ tahun ini. Sayangnya, saya pergi ke sana bukan tepat tanggal 22 Juni, tapi tanggal 4 Juli. Saya sampai di sana pada pukul 10.00 pagi. Namun, PRJ sudah ramai walaupun cuaca sangat panas. Setelah membeli tiket, saya pun masuk ke PRJ.
Ada banyak sekali stan di PRJ yang dibagi menjadi outdoor dan indoor. Yang indoor lalu dibagi menjadi beberapa gedung. Pertama saya masuk, saya masuk ke salah satu gedung. Gedung itu berisi stan-stan peralatan olahraga. Saat saya keluar gedung, saya melihat stan Yamaha yang memamerkan motor balap Valentino Rossi—pembalap terkenal Moto GP—yang dapat difoto-foto pengunjung.
Setelah ke stan Yamaha, saya lalu masuk ke gedung lain. Di dalam gedung itu saya langsung disambut model tiruan sebuah stasiun modern. Ternyata, di Jakarta akan dibangun jalur MRT (Mass Rapid Transit). Tentu saja ini kabar gembira bagi penduduk Jakarta, karena MRT adalah sarana transportasi umum modern yang sudah ada duluan di negara-negara maju. Apalagi ada jalur under ground juga alias jalur bawah tanah. Sayangnya, proyek MRT ini baru mulai dibangun pada tahun 2011. Selain itu, dana dan teknologinya berasal dari Jepang, jadi belum 100% buatan Indonesia sendiri. Namun, tetap saja itu kabar yang baik dan semoga proyeknya dapat berjalan dengan lancar.
Saya lalu keliling gedung lagi. Saya menemukan kaktus-kaktus mini yang ditanam di pot kecil yang diberi hiasan mata mainan dan lainnya sehingga seperti orang-orangan. Sayang sekali saya lupa bertanya berapa harganya.
Ada satu stan yang menarik perhatian saya, yaitu stan stasiun Tugu Jogjakarta, begitu tulisannya. Saya yang memang orang Jogja langsung melihat-lihat di stan itu. Stan itu memamerkan kerajinan-kerajinan tradisional Jogja. Yang menarik perhatian saya adalah kerajinan dari akar wangi. Akar itu dibentuk menjadi berbagai model binatang, salah satunya kuda. Baunya pun wangi seperti aroma terapi. Ada pula yang dibentuk seperti laba-laba kecil yang ada magnetnya sehingga dapat menjadi hiasan kulkas.
Setelah puas melihat-lihat di stan itu, saya berjalan lagi. Saya menemukan stan yang memamerkan tas ransel polos berwarna biru dan merah muda yang dilukis sendiri gambar-gambar bunga. Di sebelah stan itu ada stan yang memamerkan labi-labi atau kura-kura Brasil. Sebetulnya bentuknya mirip kura-kura biasa, tapi corak cangkangnya yang berbeda. Banyak pula stan yang memamerkan berbagai macam lukisan abstrak dan miniatur model sepeda kuno, becak, dan delman.
Di situ juga ada rumah pohon yang unik karena terbuat dari batang kelapa sehingga kayunya bersabut. Ada pula permainan catur raksasa lengkap dengan pion-nya yang papannya bermotif batik.
Di gedung lain, terdapat pameran komputer yang memamerkan berbagai macam peralatan komputer seperti monitor, keyboard, CPU, speaker, dan lainnya. Di outdoor, ada pula pameran distro yang memamerkan kaos-kaos khas distro. Ada pula sepeda lipat yang bentuknya unik di stan United Bike dan Polygon.
Terakhir, saya masuk ke gedung yang isinya baju-baju, sepatu-sepatu, dan tas-tas yang didiskon. Ada satu stan yang memamerkan kaos-kaos yang bertuliskan kalimat-kalimat lucu untuk anak kecil hingga orang dewasa. Beberapa stan khusus memamerkan pakaian bola, dari baju bola biasa hingga jaket dengan logo klub bola masing-masing. Tapi, sebagian besar stan memamerkan kaos-kaos cewek yang gambarnya artis-artis mancanegara maupun dalam negeri, salah satunya model cantik yang sedang terkenal saat ini karena kasus yang menimpanya, Manohara Odelia Pinot. Kalau sepatu-sepatu, kebanyakan stan memamerkan sepatu Crocs palsu berbagai ukuran dan model. Stan yang memamerkan tas-tas pun juga tidak kalah banyak.
Tak ketinggalan pula, di dekat gedung itu ada foodcourt yang lumayan lengkap. Saya pun makan di situ karena sudah capek berkeliling PRJ.
Di PRJ terdapat pula tempat bermain untuk anak-anak seperti di pasar malam, salah satunya rumah hantu. Tadinya saya mau masuk ke situ bersama tante dan adik sepupu. Tapi, ternyata sewaktu melihat tempatnya yang sangat gelap, adik sepupu saya langsung menangis dan tidak mau masuk. Akhirnya, karena sudah membeli 3 tiket yang 1 tiket berharga Rp 10.000,00, saya masuk ke rumah hantu bersama tante dan adik saya.
Selesai sudah kunjungan saya di PRJ. Walaupun masih banyak stan yang belum dikunjungi karena PRJ yang begitu luas, saya tetap senang. Jadi teman-teman, ayo datang ke PRJ! Tapi sebaiknya datang ke sana pas tanggal 22 Juni. Karena, walaupun sangat ramai, tapi lebih banyak atraksi. Seperti ondel-ondel dan berbagai parade. Selamat berwisata!
Saturday, June 20, 2009
Musik yang Berbeda
Bronzie menonton band teman sekelasnya, Die Paszion, dengan terpesona. Personilnya masih seumuran dia—11 tahun—tapi sudah sangat hebat memainkan alat musik dan terkenal pula band mereka. Bronzie berandai-andai, kapan dia bisa seperti mereka. Bronzie memang sejak dulu bercita-cita menjadi pemain band terkenal seperti teman-teman sekelasnya yang juga personil Die Paszion.
Die Paszion memang terkenal sebagai band anak-anak yang bisa menandingi band orang dewasa. Personilnya sendiri teman sekelas Bronzie di Queen Elizabeth II Primary School, yaitu Sill (vokalis), Joldie (gitaris), Quarry (bassis), Ridge (drummer), dan satu-satunya personil cewek di Die Paszion, Femelle (keyboardis), yang juga orang Prancis.
Sebetulnya, Bronzie adalah murid jenius di bidang astronomi, tapi malah cita-citanya menjadi pemain band terkenal. Hari ini ada pelajaran musik, dan Bronzie senang sekali karena ia dapat menunjukkan kemampuannya dalam bermusik. Ia memilih bernyanyi saja karena ia tidak bisa bermain alat musik sama sekali.
“I wanna make it right, that is the way! To turn my life around today, is the day. I’m not the type of guy who means what I said. Bet on it, bet on it, you can bet on me!” Bronzie dengan percaya diri menyanyikan petikan lagu Bet On It dari HSM 2. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan mata teman-temannya yang mengejek. Ia lalu menatap ke guru musiknya, Mrs.Sond, sambil tersenyum. “Sangat perlu banyak perbaikan! Ketukannya tidak terjaga, dan nadanya sering meleset. Baiklah, silahkan duduk!” kritik Mrs.Sond tajam. Terdengar kikikan teman-temannya. Senyum Bronzie pun memudar, dan dia dengan lesu duduk lagi ke mejanya.
“Mom, aku memang nggak punya bakat musik, ya?!” tanya Bronzie pada ibunya saat sudah pulang sekolah. Ibunya tersenyum, “Semua orang punya bakat sendiri, dan bakatmu bukan di musik,” ujar ibunya lembut. Bronzie makin patah semangat. Pupus sudah harapanku jadi pemain band terkenal, batinnya putus asa. Ibunya melihat raut wajah Bronzie yang putus asa, lalu cepat-cepat menambahkan, “Jangan sedih, dong! Apalagi, Mom baru aja dapat alamat website baru nih, dari temen kerja Mom tentang astronomi!” ujar ibu Bronzie menyemangati. Bronzie langsung tersenyum lagi, astronomi memang dunianya. Ibu Bronzie tersenyum melihat anaknya bersemangat lagi. “Alamat websitenya:
http://www.jpl.nasa.gov/multimedia/sounds/index-flash.html
http://www.esa.int/esaSC/SEMLAJWO4HD_index_0.html
http://www.spacesound.com
Itu isinya tentang suara-suara luar angkasa, kamu pasti belum pernah denger, kan?! Ayo sana, cepat dibuka!” ujar ibunya sambil mengacak-acak rambut Bronzie yang sedang sibuk mencatat. Bronzie segera berlari ke kamarnya untuk membuka website itu di laptopnya, agar perasaannya lebih baik.
Bronzie terpesona dengan suara-suara yang ia dengar dari website itu. Bukan karena suara itu indah seperti musik, tapi itu kan suara luar angkasa, dunia yang masih menjadi misteri bahkan bagi ilmuwan pun!
“Hai Bronzie!” sapa Sill. Bronzie langsung mengalihkan pandangannya dari laptopnya. “Hei, Sill!” balas Bronzie, lalu langsung mengalihkan pandangannya ke laptop lagi. Ia sedang malas bertemu Sill sekarang sejak insiden tadi pagi, karena ia iri dengan Sill yang suara Sill yang keren banget. Sill bingung melihat sikap Bronzie. Ia segera menghampiri Bronzie lalu duduk di sebelahnya. “Bronzie, kamu kenapa sih?! Kok sikapmu dingin banget?! Emang aku salah apa? Ayo dong, kita kan udah lama temenan…” ujar Sill. Bronzie menatap Sill, “Temen? Temen apa? Aku nggak pantes kan, temenan sama vokalis terkenal kayak kamu?! Aku cuma si jenius astronomi, iya kan?!” ujar Bronzie tajam. Sill langsung tanggap keadaan, ia ingat insiden di sekolah tadi pagi.
“Zie, jangan pikir macem-macem, oke?! Aku tau kamu kenapa, ini pasti gara-gara insiden di sekolah tadi pagi! Tapi, ayolah Zie, kita kan emang punya bakat sendiri-sendiri. Lihat deh kamu, nilai astronomi-mu selalu dapat A, paling jelek A-! Lihat deh aku, aku sering dapet B-!” ujar Sill sambil menepuk bahu temannya itu. Bronzie tertegun. “Kamu benar! Tapi aku pingin banget Sill, jadi pemain band terkenal, kayak kamu! Itu cita-citaku sejak kecil!” ujar Bronzie sambil menyandarkan kepalanya. Sill terdiam. Perhatiannya lalu teralih ke laptop Bronzie.
“Suara apaan tuh Zie?” tanya Sill tiba-tiba. “Suara-suara luar angkasa yang tertangkap sama teleskop radio bumi.” jawab Bronzie sekenanya. Sill mendengarkan suara-suara itu sebentar, lalu menjetikkan jarinya, “Aku punya ide!”.
“Halo para pendengar di mana pun anda berada! Kalian sedang mendengarkan England Muzz Charts di Queen Elizabeth II Official Radio. Kita baru aja nih, dapet rekaman lagu mixing dari murid kelas 5th Grader QuE2, Bronzie Galazy, berjudul Space’s Sounds. Ini dia lagunya…” terdengar suara Runiy, penyiar radio sekolah berkumandang di seluruh sekolah. Lalu, tak lama kemudian, terdengar suara lagu yang musiknya asyik banget, beda dan unik. Seluruh sekolah langsung terhanyut oleh lagu itu, sedangkan Bronzie dan Sill duduk di pojok kelas sambil tersenyum senang.
Ternyata, ide Sill adalah me-mixing suara-suara luar angkasa itu agar menjadi lagu yang asyik. Bronzie langsung setuju karena ia pernah berhasil iseng-iseng menggubah lagu Die Paszion di program komputer. Bronzie bekerja keras selama seminggu mengutak-atik suara-suara itu sehingga menjadi lagu mixing yang sangat asyik.
Bahkan, sejak saat itu, NASA (badan antariksa Amerika Serikat) memakai lagu mixing Bronzie sebagai lagu tema mereka. Sekarang, lagu itu sudah menjamur di seluruh dunia dan Bronzie terkenal di seluruh dunia. Bahkan, Reffauro Institute of Astronomy Junior, institute khusus untuk anak-anak yang jenius di bidang astronomi, menawarkan beasiswa untuk menuntut ilmu di sana. Bronzie tentu saja langsung menerimanya, karena sejak dulu ia ingin masuk ke Reffauro Institute of Astronomy Junior.
Maka, kita harus memanfaatkan dengan sebaik mungkin apa kelebihan kita dan jangan ragu untuk melakukannya, karena itulah yang terbaik.
Die Paszion memang terkenal sebagai band anak-anak yang bisa menandingi band orang dewasa. Personilnya sendiri teman sekelas Bronzie di Queen Elizabeth II Primary School, yaitu Sill (vokalis), Joldie (gitaris), Quarry (bassis), Ridge (drummer), dan satu-satunya personil cewek di Die Paszion, Femelle (keyboardis), yang juga orang Prancis.
Sebetulnya, Bronzie adalah murid jenius di bidang astronomi, tapi malah cita-citanya menjadi pemain band terkenal. Hari ini ada pelajaran musik, dan Bronzie senang sekali karena ia dapat menunjukkan kemampuannya dalam bermusik. Ia memilih bernyanyi saja karena ia tidak bisa bermain alat musik sama sekali.
“I wanna make it right, that is the way! To turn my life around today, is the day. I’m not the type of guy who means what I said. Bet on it, bet on it, you can bet on me!” Bronzie dengan percaya diri menyanyikan petikan lagu Bet On It dari HSM 2. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan mata teman-temannya yang mengejek. Ia lalu menatap ke guru musiknya, Mrs.Sond, sambil tersenyum. “Sangat perlu banyak perbaikan! Ketukannya tidak terjaga, dan nadanya sering meleset. Baiklah, silahkan duduk!” kritik Mrs.Sond tajam. Terdengar kikikan teman-temannya. Senyum Bronzie pun memudar, dan dia dengan lesu duduk lagi ke mejanya.
“Mom, aku memang nggak punya bakat musik, ya?!” tanya Bronzie pada ibunya saat sudah pulang sekolah. Ibunya tersenyum, “Semua orang punya bakat sendiri, dan bakatmu bukan di musik,” ujar ibunya lembut. Bronzie makin patah semangat. Pupus sudah harapanku jadi pemain band terkenal, batinnya putus asa. Ibunya melihat raut wajah Bronzie yang putus asa, lalu cepat-cepat menambahkan, “Jangan sedih, dong! Apalagi, Mom baru aja dapat alamat website baru nih, dari temen kerja Mom tentang astronomi!” ujar ibu Bronzie menyemangati. Bronzie langsung tersenyum lagi, astronomi memang dunianya. Ibu Bronzie tersenyum melihat anaknya bersemangat lagi. “Alamat websitenya:
http://www.jpl.nasa.gov/multimedia/sounds/index-flash.html
http://www.esa.int/esaSC/SEMLAJWO4HD_index_0.html
http://www.spacesound.com
Itu isinya tentang suara-suara luar angkasa, kamu pasti belum pernah denger, kan?! Ayo sana, cepat dibuka!” ujar ibunya sambil mengacak-acak rambut Bronzie yang sedang sibuk mencatat. Bronzie segera berlari ke kamarnya untuk membuka website itu di laptopnya, agar perasaannya lebih baik.
Bronzie terpesona dengan suara-suara yang ia dengar dari website itu. Bukan karena suara itu indah seperti musik, tapi itu kan suara luar angkasa, dunia yang masih menjadi misteri bahkan bagi ilmuwan pun!
“Hai Bronzie!” sapa Sill. Bronzie langsung mengalihkan pandangannya dari laptopnya. “Hei, Sill!” balas Bronzie, lalu langsung mengalihkan pandangannya ke laptop lagi. Ia sedang malas bertemu Sill sekarang sejak insiden tadi pagi, karena ia iri dengan Sill yang suara Sill yang keren banget. Sill bingung melihat sikap Bronzie. Ia segera menghampiri Bronzie lalu duduk di sebelahnya. “Bronzie, kamu kenapa sih?! Kok sikapmu dingin banget?! Emang aku salah apa? Ayo dong, kita kan udah lama temenan…” ujar Sill. Bronzie menatap Sill, “Temen? Temen apa? Aku nggak pantes kan, temenan sama vokalis terkenal kayak kamu?! Aku cuma si jenius astronomi, iya kan?!” ujar Bronzie tajam. Sill langsung tanggap keadaan, ia ingat insiden di sekolah tadi pagi.
“Zie, jangan pikir macem-macem, oke?! Aku tau kamu kenapa, ini pasti gara-gara insiden di sekolah tadi pagi! Tapi, ayolah Zie, kita kan emang punya bakat sendiri-sendiri. Lihat deh kamu, nilai astronomi-mu selalu dapat A, paling jelek A-! Lihat deh aku, aku sering dapet B-!” ujar Sill sambil menepuk bahu temannya itu. Bronzie tertegun. “Kamu benar! Tapi aku pingin banget Sill, jadi pemain band terkenal, kayak kamu! Itu cita-citaku sejak kecil!” ujar Bronzie sambil menyandarkan kepalanya. Sill terdiam. Perhatiannya lalu teralih ke laptop Bronzie.
“Suara apaan tuh Zie?” tanya Sill tiba-tiba. “Suara-suara luar angkasa yang tertangkap sama teleskop radio bumi.” jawab Bronzie sekenanya. Sill mendengarkan suara-suara itu sebentar, lalu menjetikkan jarinya, “Aku punya ide!”.
“Halo para pendengar di mana pun anda berada! Kalian sedang mendengarkan England Muzz Charts di Queen Elizabeth II Official Radio. Kita baru aja nih, dapet rekaman lagu mixing dari murid kelas 5th Grader QuE2, Bronzie Galazy, berjudul Space’s Sounds. Ini dia lagunya…” terdengar suara Runiy, penyiar radio sekolah berkumandang di seluruh sekolah. Lalu, tak lama kemudian, terdengar suara lagu yang musiknya asyik banget, beda dan unik. Seluruh sekolah langsung terhanyut oleh lagu itu, sedangkan Bronzie dan Sill duduk di pojok kelas sambil tersenyum senang.
Ternyata, ide Sill adalah me-mixing suara-suara luar angkasa itu agar menjadi lagu yang asyik. Bronzie langsung setuju karena ia pernah berhasil iseng-iseng menggubah lagu Die Paszion di program komputer. Bronzie bekerja keras selama seminggu mengutak-atik suara-suara itu sehingga menjadi lagu mixing yang sangat asyik.
Bahkan, sejak saat itu, NASA (badan antariksa Amerika Serikat) memakai lagu mixing Bronzie sebagai lagu tema mereka. Sekarang, lagu itu sudah menjamur di seluruh dunia dan Bronzie terkenal di seluruh dunia. Bahkan, Reffauro Institute of Astronomy Junior, institute khusus untuk anak-anak yang jenius di bidang astronomi, menawarkan beasiswa untuk menuntut ilmu di sana. Bronzie tentu saja langsung menerimanya, karena sejak dulu ia ingin masuk ke Reffauro Institute of Astronomy Junior.
Maka, kita harus memanfaatkan dengan sebaik mungkin apa kelebihan kita dan jangan ragu untuk melakukannya, karena itulah yang terbaik.
Sunday, May 24, 2009
Thanks...
Aku cuma mau bilang makasih buat ayah, ibu, eyang yati+eyang narto, eyang kabul putri+eyang kabul kakung, dan temen-temenku: anind, nia, lona, panta, aam, habibie, davy, dan asa buat kado ulang tahun dari kalian. Khusus buat temen-temenku, makasih banget kado buku The Tales of Beedle The Bard yang memang aku pingin banget dan stiker besar Arsenal-nya. Makasih juga buat kartu ucapannya, bagus banget dan ada ucapan bahasa Belandanya (gefeliciteerd) dan ada tanda tangan ala Keisha dari kalian semua. Sekali lagi,

[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

[Glitterfy.com - *Glitter Words*]
Thursday, May 21, 2009
Cuma Kado
L’Ners, Nia, Anind, Yusa, Sandya, dan Fira berencana ke Gramedia hari ini, pulang sekolah. Mereka akan urunan membeli tas untuk kado Lona. Tapi, mereka harus diam-diam pergi agar tidak ketahuan Lona.
Pulang sekolah, mereka langsung keluar kelas dan ke tempat parkir mobil. Saat mereka melewati kantin, mereka tiba-tiba dicegat Lona. “Hai, kok pada ngumpul semua, sih?!” tanya Lona. Mereka terdiam bingung. “Ngg…nggak ngumpul kok! Cuma kebetulan ketemu…” jawab L’Ners tergagap. “Masa??? Nggak mungkin ah… Hayo, pada mau kemana sih? Aku boleh ikut nggak?” tanya Lona sambil tersenyum. Mereka makin salah tingkah. “Nggak, Lon! Kita tuh nggak mau kemana-mana!” ujar Nia. “Tuh kan, kalian kayak gitu! Ayo dong, ada apa sih? Kok aku pasti nggak pernah diajak sih?” Lona terus memaksa. “Illona…” Anind menyebut nama panjang Lona. “Kita nggak mau kemana-mana, oke?!” ujar Anind keras. “Oke, oke! Ya udah, kalau nggak kemana-mana, nge-net yuk!” ajak Lona. “Aku sibuk!” L’Ners, Nia, Anind, Yusa, Sandya, dan Fira menjawab serempak. Lona mengangkat bahu. “Oke, sampai ketemu besok…” ujarnya sambil meninggalkan mereka. Mereka mendesah lega.
Sampailah mereka di Gramedia menggunakan mobil L’Ners. Mereka segera masuk dan berjalan ke bagian tas-tas. “Oke, kita cari yang bagus dan harganya pas sama uang urunan kita, ya…” ujar Nia. Mereka lalu berpencar. 10 menit kemudian, mereka bertemu lagi. “Ada hasil?” tanya Yusa. Mereka semua menggelengkan kepala. “Udah lah, ultah Lona kan masih lama. Kita ke bagian stationery, yuk! Sekalian, aku juga mau beli barang.” usul Sandya. “Oke!” jawab yang lainnya, lalu mereka ke bagian stationery.
“Ni, kita beli aja kado buat Fira dan Sandya. Urunan aku, kamu, Anind, Yusa. Lagian ultah mereka kan tinggal bentar lagi…” bisik L’Ners pada Nia. Nia berpikir sebentar. “Oke deh…” jawabnya kemudian, lalu membisikkan ide itu ke Anind dan Yusa. Mereka juga setuju. “Fir, San! Kalian ke bagian lain dulu deh! Kita mau cari kado buat kalian, nih!” ujar Yusa sedikit mengusir. “Wah, beneran nih?!” ujar Fira tak percaya. Yusa mengangguk. “Yang bagus, lho!” ujar Sandya dan Fira, lalu mereka ke bagian sebelah.
L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind pun lalu sibuk memilih kado untuk Fira dan Sandya. “Fira mau yang apa, nih?! Kalau Sandya?” tanya Nia. “Ngg...beliin alat tulis aja! Biar sekalian murah, kita nggak bawa uang banyak!” usul L’Ners. Akhirnya, setelah agak lama memilih dan berdebat, mereka memilih alat tulis Princess untuk Fira dan alat tulis HSM untuk Sandya. Kebetulan isinya sama dan harganya juga sama, jadi adil. Karena harganya lumayan mahal, Yusa yang membawa uang banyak yang disuruh membayar. Besok diganti L’Ners, Nia, dan Anind.
Setelah membayar, L’Ners, Yusa, Nia, dan Anind memutuskan ke lantai paling atas untuk melihat-lihat buku. Setelah lumayan lama melihat-lihat, mereka bosan juga. “Hhh...udahan, yuk! Sandya sama Fira mana, sih?!” keluh Anind sambil mengusap peluh. L’Ners mengangkat bahu. “Cari aja!” ujarnya. Namun, Sandya dan Fira tidak ketemu juga. Akhirnya mereka memutuskan memanggil mereka di call centre, atas nama Nia.
Setelah melapor ke call centre, mereka turun lagi ke bagian stationery. Waktu melewati bagian stiker, mereka melihat Sandya dan Fira sedang asyik melihat-lihat. Mereka segera menghampirinya. “Ya ampun, kalian di sini, ya?! Malah tadi udah terlanjur ke call centre.” ujar L’Ners kaget. Fira dan Sandya terlihat bingung. “Kita dari tadi juga di sini terus, kok!” ujar Sandya.
Keesokan harinya, L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind memberikan kadonya kepada Sandya dan Fira. “Jangan dibuka sekarang, ya! Di rumah aja!” ujar L’Ners sambil memberikan kado itu kepada Sandya dan Fira. Mereka mengangguk. Fira lalu menghampiri L’Ners. “Ners, kado Sandya apa?” bisik Fira penasaran. “Alat tulis HSM, tapi jangan bilang Sandya, lho!” jawab L’Ners sambil ikut berbisik. “Kalau aku?” tanya Fira lagi. L’Ners tersenyum. “Pokoknya beda!” jawab L’Ners misterius. Fira mengangkat bahu, lalu pergi.
Pagi-pagi, saat L’Ners baru aja masuk kelas, Sandya langsung menghampirinya. “Makasih ya, kadonya! Bagus!” ujar Sandya. L’Ners tersenyum senang. “Sama-sama. Itu juga dari Nia, Anind, dan Yusa juga, kok!” ujar L’Ners merendah.
“Hai, Fir!” sapa L’Ners ramah pada Fira yang sedang mengobrol dengan Wina dan Ina. Fira hanya menatap L’Ners sebentar, lalu mengobrol lagi. L’Ners jadi bingung. Tiba-tiba, ia ditarik oleh Nia.
“Gawat, Ners! Fira marah!” ujar Nia panik. “Kok bisa? Marah kenapa? Bukannya dia udah kita kasih kado?” tanya L’Ners bingung. “Itu masalahnya!” celetuk Lona yang tahu-tahu datang. L’Ners mengerutkan dahi. “Sini! Ikut aku! Ajak Anind sama Yusa juga!” suruh Nia. L’Ners lalu memanggil Anind dan Yusa, lalu mengikuti Nia keluar kelas menuju balkon kecil di sebelah kelas.
“Jadi ceritanya gini! Fira tuh cemburu, soalnya kadonya Sandya HSM. Dia kan juga suka HSM!” ujar Lona singkat. “Tapi dia juga suka Princess, kan?!” ujar Anind ragu. “Suka sih suka! Tapi lebih suka HSM, jadi dia cemburu!” tukas Nia. Mereka terdiam. “Apa kubilang, harusnya kita kado Sandya Marie Cat aja! Jangan HSM!” ujar Yusa memecah keheningan. “Kemarin tapi kan nggak ada alat tulis Marie Cat!” tukas L’Ners tidak sabar. Yusa mengedikkan bahu. “Ngg... Atau kita kado lagi aja, ya?! Kan kemarin Yusa nunjukkin stiker nama Hannah Montana. Kita bikinin aja Fira itu, tapi HSM.” usul Nia. “Tapi, nanti malah jadi Sandya yang cemburu ganti!” ujar Yusa masuk akal. “Ya Sandya kasih aja kalung yang ada namanya. Bilang aja bukan HSM soalnya yang sebelumnya udah HSM.” kata Lona. “Hhh...kalau begini kita kan yang jadi repot! Mahal tau nggak sih, kayak gitu!” gerutu Anind. “Ya...gimana lagi?! Kita nggak pingin kan, persahabatan kita sama Fira putus cuma karena kado?!” ujar L’Ners.
Keesokan harinya, Fira masih tidak mau bicara dengan mereka. L’Ners, Nia, Anind, Lona, dan Yusa semakin cemas. “Gimana, kapan kita pesannya?” tanya Nia saat mereka sedang berkumpul di kantin. “Hhh...Ni! Nggak ada yang sempat!” keluh Lona lalu melanjutkan memakan sotonya. “Iya, apalagi uangku udah nge-pas banget nih! Ada banyak lagi lho, yang mau ultah!” ujar Anind sambil menatap Nia, Yusa, dan L’Ners penuh arti, yang maksudnya ultah Lona.
Pulang sekolah, Nia, Yusa, L’Ners, dan Anind berkumpul lagi untuk membahas kado untuk Lona. “Tapi gimana Fira-nya?” tanya Nia cemas. Yusa mendesah, “Nggak usah dipikirin dulu, oke?! Kita fokus ke Lona.”. L’Ners mengangguk setuju. “Jadi, siapa aja yang mau urunan?” tanya L’Ners. Nia mengecek daftarnya. “Yang diundang Lona ke ultahnya minggu depan, ada nggg...” Nia lalu sibuk menghitung, “15 orang.”. “Kalau gitu, bisa yang mahal dan banyak, dong!” ujar Anind. Yang lainnya mengangguk.
“Eh, tapi tau nggak?! Sandya tuh bilang kado buat Lona jangan HSM, nanti bikin yang lain iri!” bisik Nia sambil sibuk melihat kiri kanan. L’Ners langsung memprotes, “Nggak bisa gitu dong! Dia juga udah di kasih kado HSM, kok! Apalagi kan, Lona temen baik kita, kalau Sandya cuma temen biasa aja! Udah, nggak usah didengerin!”. Nia hanya mengangguk.
“Hai, Nind! Udah bawa uangnya?” tanya L’Ners saat ia bertemu Anind di Kedai Digital untuk memesan mug khusus untuk kado Lona. Anind mengangguk, “Kamu udah bawa gambarnya?” tanya Anind. “Beres, ada di HP!” jawab L’Ners sambil mengacungkan jempol. Mereka lalu masuk ke Kedai Digital.
Nia, L’Ners, Anind, dan Yusa sudah memutuskan akan memberi Lona kado mug yang ada foto Lona main gitar, foto Lona di Museum Dirgantara bersama kelompok Pramukanya, dan gambar HSM, serta tambahan juga dompet dan kue tart. L’Ners dan Anind bertugas memesan mugnya, sedangkan Nia membeli dompet serta kue tartnya.
“Kapan bisa diambil, mbak?” tanya L’Ners setelah ia dan Anind selesai memesan mug kepada penjaga toko. “Ngg...lusa sore. Soalnya kan besok libur, jadi baru bisa jadi lusa sore.” jawab penjaga toko itu sambil menulis nota. L’Ners bertukar pandang cemas kepada Anind. Ultah Lona kan, lusa siang!
Pulang dari Kedai Digital L’Ners langsung menelepon Nia, memberitahunya bahwa mugnya baru bisa jadi lusa sore. Nia sebetulnya cemas, tapi dia bilang nggak papa, kan ada kado lainnya, nanti mugnya bisa nyusul. L’Ners juga sekali lagi mengingatkan Nia kalau dia nggak bisa ikut ultah Lona karena liburan ke Bandung, tapi dia tetap urunan.
Liburan L’Ners di Bandung sangat menyenangkan. Ia pergi ke berbagai tempat asyik yang nggak ada di Jogja. Waktu hari kedua, malam-malam dia mendapat sms dari Nia. Katanya Sandya tadi pagi-pagi menelepon Nia, marah-marah soalnya kado buat Lona HSM. L’Ners langsung membalas dengan bertanya pada Nia apa Nia ngasih tau ke Sandya? Sebaiknya nggak usah dikasih tau! Nia menjawab kalau dia sama sekali nggak memberitahu Sandya, nggak tau Sandya tau dari siapa. L’Ners membalas lagi, gimana dong?! Bukannya Sandya juga diundang ke ultah Lona? Tapi kok dia tau itu, lho, yang aku bingung! Nia menjawab, nanti deh aku telpon, aku jelasin semuanya!
L’Ners sudah tidak sabar menunggu telpon Nia keesokan harinya. Saat beristirahat selesai outbond, ia menelepon Nia. Suara Nia hampir tidak kedengaran, berisik banget di pesta ultah Lona. L’Ners sempat mengucapkan selamat ultah sama Lona. Nia bilang ke dia kalau Sandya datang, tapi nggak tau masih marah apa nggak. L’Ners lalu bilang ke Nia kalau sampai Senin Sandya masih marah, L’Ners nanti yang ngomong sama Sandya. Tapi L’Ners menduga Sandya nggak akan marah lagi. Lama-lama nanti juga kayak Fira yang udah normal lagi.
L’Ners nggak habis pikir, kenapa sih teman sekelasnya bisa cemburu berat cuma gara-gara kado?! Kado kan cuma simbol ucapan selamat ultah. Apalagi cemburunya karena merasa kado yang dikasih ke dia lebih jelek daripada kado yang dikasih ke orang lain. Itu, kan, sama aja nggak menghargai yang ngasih kado, udah capek-capek cari kado malah dimusuhin cuma gara-gara masalah sepele kayak gitu! Jangan ditiru deh, batin L’Ners dalam hati.
Pulang sekolah, mereka langsung keluar kelas dan ke tempat parkir mobil. Saat mereka melewati kantin, mereka tiba-tiba dicegat Lona. “Hai, kok pada ngumpul semua, sih?!” tanya Lona. Mereka terdiam bingung. “Ngg…nggak ngumpul kok! Cuma kebetulan ketemu…” jawab L’Ners tergagap. “Masa??? Nggak mungkin ah… Hayo, pada mau kemana sih? Aku boleh ikut nggak?” tanya Lona sambil tersenyum. Mereka makin salah tingkah. “Nggak, Lon! Kita tuh nggak mau kemana-mana!” ujar Nia. “Tuh kan, kalian kayak gitu! Ayo dong, ada apa sih? Kok aku pasti nggak pernah diajak sih?” Lona terus memaksa. “Illona…” Anind menyebut nama panjang Lona. “Kita nggak mau kemana-mana, oke?!” ujar Anind keras. “Oke, oke! Ya udah, kalau nggak kemana-mana, nge-net yuk!” ajak Lona. “Aku sibuk!” L’Ners, Nia, Anind, Yusa, Sandya, dan Fira menjawab serempak. Lona mengangkat bahu. “Oke, sampai ketemu besok…” ujarnya sambil meninggalkan mereka. Mereka mendesah lega.
Sampailah mereka di Gramedia menggunakan mobil L’Ners. Mereka segera masuk dan berjalan ke bagian tas-tas. “Oke, kita cari yang bagus dan harganya pas sama uang urunan kita, ya…” ujar Nia. Mereka lalu berpencar. 10 menit kemudian, mereka bertemu lagi. “Ada hasil?” tanya Yusa. Mereka semua menggelengkan kepala. “Udah lah, ultah Lona kan masih lama. Kita ke bagian stationery, yuk! Sekalian, aku juga mau beli barang.” usul Sandya. “Oke!” jawab yang lainnya, lalu mereka ke bagian stationery.
“Ni, kita beli aja kado buat Fira dan Sandya. Urunan aku, kamu, Anind, Yusa. Lagian ultah mereka kan tinggal bentar lagi…” bisik L’Ners pada Nia. Nia berpikir sebentar. “Oke deh…” jawabnya kemudian, lalu membisikkan ide itu ke Anind dan Yusa. Mereka juga setuju. “Fir, San! Kalian ke bagian lain dulu deh! Kita mau cari kado buat kalian, nih!” ujar Yusa sedikit mengusir. “Wah, beneran nih?!” ujar Fira tak percaya. Yusa mengangguk. “Yang bagus, lho!” ujar Sandya dan Fira, lalu mereka ke bagian sebelah.
L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind pun lalu sibuk memilih kado untuk Fira dan Sandya. “Fira mau yang apa, nih?! Kalau Sandya?” tanya Nia. “Ngg...beliin alat tulis aja! Biar sekalian murah, kita nggak bawa uang banyak!” usul L’Ners. Akhirnya, setelah agak lama memilih dan berdebat, mereka memilih alat tulis Princess untuk Fira dan alat tulis HSM untuk Sandya. Kebetulan isinya sama dan harganya juga sama, jadi adil. Karena harganya lumayan mahal, Yusa yang membawa uang banyak yang disuruh membayar. Besok diganti L’Ners, Nia, dan Anind.
Setelah membayar, L’Ners, Yusa, Nia, dan Anind memutuskan ke lantai paling atas untuk melihat-lihat buku. Setelah lumayan lama melihat-lihat, mereka bosan juga. “Hhh...udahan, yuk! Sandya sama Fira mana, sih?!” keluh Anind sambil mengusap peluh. L’Ners mengangkat bahu. “Cari aja!” ujarnya. Namun, Sandya dan Fira tidak ketemu juga. Akhirnya mereka memutuskan memanggil mereka di call centre, atas nama Nia.
Setelah melapor ke call centre, mereka turun lagi ke bagian stationery. Waktu melewati bagian stiker, mereka melihat Sandya dan Fira sedang asyik melihat-lihat. Mereka segera menghampirinya. “Ya ampun, kalian di sini, ya?! Malah tadi udah terlanjur ke call centre.” ujar L’Ners kaget. Fira dan Sandya terlihat bingung. “Kita dari tadi juga di sini terus, kok!” ujar Sandya.
Keesokan harinya, L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind memberikan kadonya kepada Sandya dan Fira. “Jangan dibuka sekarang, ya! Di rumah aja!” ujar L’Ners sambil memberikan kado itu kepada Sandya dan Fira. Mereka mengangguk. Fira lalu menghampiri L’Ners. “Ners, kado Sandya apa?” bisik Fira penasaran. “Alat tulis HSM, tapi jangan bilang Sandya, lho!” jawab L’Ners sambil ikut berbisik. “Kalau aku?” tanya Fira lagi. L’Ners tersenyum. “Pokoknya beda!” jawab L’Ners misterius. Fira mengangkat bahu, lalu pergi.
Pagi-pagi, saat L’Ners baru aja masuk kelas, Sandya langsung menghampirinya. “Makasih ya, kadonya! Bagus!” ujar Sandya. L’Ners tersenyum senang. “Sama-sama. Itu juga dari Nia, Anind, dan Yusa juga, kok!” ujar L’Ners merendah.
“Hai, Fir!” sapa L’Ners ramah pada Fira yang sedang mengobrol dengan Wina dan Ina. Fira hanya menatap L’Ners sebentar, lalu mengobrol lagi. L’Ners jadi bingung. Tiba-tiba, ia ditarik oleh Nia.
“Gawat, Ners! Fira marah!” ujar Nia panik. “Kok bisa? Marah kenapa? Bukannya dia udah kita kasih kado?” tanya L’Ners bingung. “Itu masalahnya!” celetuk Lona yang tahu-tahu datang. L’Ners mengerutkan dahi. “Sini! Ikut aku! Ajak Anind sama Yusa juga!” suruh Nia. L’Ners lalu memanggil Anind dan Yusa, lalu mengikuti Nia keluar kelas menuju balkon kecil di sebelah kelas.
“Jadi ceritanya gini! Fira tuh cemburu, soalnya kadonya Sandya HSM. Dia kan juga suka HSM!” ujar Lona singkat. “Tapi dia juga suka Princess, kan?!” ujar Anind ragu. “Suka sih suka! Tapi lebih suka HSM, jadi dia cemburu!” tukas Nia. Mereka terdiam. “Apa kubilang, harusnya kita kado Sandya Marie Cat aja! Jangan HSM!” ujar Yusa memecah keheningan. “Kemarin tapi kan nggak ada alat tulis Marie Cat!” tukas L’Ners tidak sabar. Yusa mengedikkan bahu. “Ngg... Atau kita kado lagi aja, ya?! Kan kemarin Yusa nunjukkin stiker nama Hannah Montana. Kita bikinin aja Fira itu, tapi HSM.” usul Nia. “Tapi, nanti malah jadi Sandya yang cemburu ganti!” ujar Yusa masuk akal. “Ya Sandya kasih aja kalung yang ada namanya. Bilang aja bukan HSM soalnya yang sebelumnya udah HSM.” kata Lona. “Hhh...kalau begini kita kan yang jadi repot! Mahal tau nggak sih, kayak gitu!” gerutu Anind. “Ya...gimana lagi?! Kita nggak pingin kan, persahabatan kita sama Fira putus cuma karena kado?!” ujar L’Ners.
Keesokan harinya, Fira masih tidak mau bicara dengan mereka. L’Ners, Nia, Anind, Lona, dan Yusa semakin cemas. “Gimana, kapan kita pesannya?” tanya Nia saat mereka sedang berkumpul di kantin. “Hhh...Ni! Nggak ada yang sempat!” keluh Lona lalu melanjutkan memakan sotonya. “Iya, apalagi uangku udah nge-pas banget nih! Ada banyak lagi lho, yang mau ultah!” ujar Anind sambil menatap Nia, Yusa, dan L’Ners penuh arti, yang maksudnya ultah Lona.
Pulang sekolah, Nia, Yusa, L’Ners, dan Anind berkumpul lagi untuk membahas kado untuk Lona. “Tapi gimana Fira-nya?” tanya Nia cemas. Yusa mendesah, “Nggak usah dipikirin dulu, oke?! Kita fokus ke Lona.”. L’Ners mengangguk setuju. “Jadi, siapa aja yang mau urunan?” tanya L’Ners. Nia mengecek daftarnya. “Yang diundang Lona ke ultahnya minggu depan, ada nggg...” Nia lalu sibuk menghitung, “15 orang.”. “Kalau gitu, bisa yang mahal dan banyak, dong!” ujar Anind. Yang lainnya mengangguk.
“Eh, tapi tau nggak?! Sandya tuh bilang kado buat Lona jangan HSM, nanti bikin yang lain iri!” bisik Nia sambil sibuk melihat kiri kanan. L’Ners langsung memprotes, “Nggak bisa gitu dong! Dia juga udah di kasih kado HSM, kok! Apalagi kan, Lona temen baik kita, kalau Sandya cuma temen biasa aja! Udah, nggak usah didengerin!”. Nia hanya mengangguk.
“Hai, Nind! Udah bawa uangnya?” tanya L’Ners saat ia bertemu Anind di Kedai Digital untuk memesan mug khusus untuk kado Lona. Anind mengangguk, “Kamu udah bawa gambarnya?” tanya Anind. “Beres, ada di HP!” jawab L’Ners sambil mengacungkan jempol. Mereka lalu masuk ke Kedai Digital.
Nia, L’Ners, Anind, dan Yusa sudah memutuskan akan memberi Lona kado mug yang ada foto Lona main gitar, foto Lona di Museum Dirgantara bersama kelompok Pramukanya, dan gambar HSM, serta tambahan juga dompet dan kue tart. L’Ners dan Anind bertugas memesan mugnya, sedangkan Nia membeli dompet serta kue tartnya.
“Kapan bisa diambil, mbak?” tanya L’Ners setelah ia dan Anind selesai memesan mug kepada penjaga toko. “Ngg...lusa sore. Soalnya kan besok libur, jadi baru bisa jadi lusa sore.” jawab penjaga toko itu sambil menulis nota. L’Ners bertukar pandang cemas kepada Anind. Ultah Lona kan, lusa siang!
Pulang dari Kedai Digital L’Ners langsung menelepon Nia, memberitahunya bahwa mugnya baru bisa jadi lusa sore. Nia sebetulnya cemas, tapi dia bilang nggak papa, kan ada kado lainnya, nanti mugnya bisa nyusul. L’Ners juga sekali lagi mengingatkan Nia kalau dia nggak bisa ikut ultah Lona karena liburan ke Bandung, tapi dia tetap urunan.
Liburan L’Ners di Bandung sangat menyenangkan. Ia pergi ke berbagai tempat asyik yang nggak ada di Jogja. Waktu hari kedua, malam-malam dia mendapat sms dari Nia. Katanya Sandya tadi pagi-pagi menelepon Nia, marah-marah soalnya kado buat Lona HSM. L’Ners langsung membalas dengan bertanya pada Nia apa Nia ngasih tau ke Sandya? Sebaiknya nggak usah dikasih tau! Nia menjawab kalau dia sama sekali nggak memberitahu Sandya, nggak tau Sandya tau dari siapa. L’Ners membalas lagi, gimana dong?! Bukannya Sandya juga diundang ke ultah Lona? Tapi kok dia tau itu, lho, yang aku bingung! Nia menjawab, nanti deh aku telpon, aku jelasin semuanya!
L’Ners sudah tidak sabar menunggu telpon Nia keesokan harinya. Saat beristirahat selesai outbond, ia menelepon Nia. Suara Nia hampir tidak kedengaran, berisik banget di pesta ultah Lona. L’Ners sempat mengucapkan selamat ultah sama Lona. Nia bilang ke dia kalau Sandya datang, tapi nggak tau masih marah apa nggak. L’Ners lalu bilang ke Nia kalau sampai Senin Sandya masih marah, L’Ners nanti yang ngomong sama Sandya. Tapi L’Ners menduga Sandya nggak akan marah lagi. Lama-lama nanti juga kayak Fira yang udah normal lagi.
L’Ners nggak habis pikir, kenapa sih teman sekelasnya bisa cemburu berat cuma gara-gara kado?! Kado kan cuma simbol ucapan selamat ultah. Apalagi cemburunya karena merasa kado yang dikasih ke dia lebih jelek daripada kado yang dikasih ke orang lain. Itu, kan, sama aja nggak menghargai yang ngasih kado, udah capek-capek cari kado malah dimusuhin cuma gara-gara masalah sepele kayak gitu! Jangan ditiru deh, batin L’Ners dalam hati.
Cuma Kado
L’Ners, Nia, Anind, Yusa, Sandya, dan Fira berencana ke Gramedia hari ini, pulang sekolah. Mereka akan urunan membeli tas untuk kado Lona. Tapi, mereka harus diam-diam pergi agar tidak ketahuan Lona.
Pulang sekolah, mereka langsung keluar kelas dan ke tempat parkir mobil. Saat mereka melewati kantin, mereka tiba-tiba dicegat Lona. “Hai, kok pada ngumpul semua, sih?!” tanya Lona. Mereka terdiam bingung. “Ngg…nggak ngumpul kok! Cuma kebetulan ketemu…” jawab L’Ners tergagap. “Masa??? Nggak mungkin ah… Hayo, pada mau kemana sih? Aku boleh ikut nggak?” tanya Lona sambil tersenyum. Mereka makin salah tingkah. “Nggak, Lon! Kita tuh nggak mau kemana-mana!” ujar Nia. “Tuh kan, kalian kayak gitu! Ayo dong, ada apa sih? Kok aku pasti nggak pernah diajak sih?” Lona terus memaksa. “Illona…” Anind menyebut nama panjang Lona. “Kita nggak mau kemana-mana, oke?!” ujar Anind keras. “Oke, oke! Ya udah, kalau nggak kemana-mana, nge-net yuk!” ajak Lona. “Aku sibuk!” L’Ners, Nia, Anind, Yusa, Sandya, dan Fira menjawab serempak. Lona mengangkat bahu. “Oke, sampai ketemu besok…” ujarnya sambil meninggalkan mereka. Mereka mendesah lega.
Sampailah mereka di Gramedia menggunakan mobil L’Ners. Mereka segera masuk dan berjalan ke bagian tas-tas. “Oke, kita cari yang bagus dan harganya pas sama uang urunan kita, ya…” ujar Nia. Mereka lalu berpencar. 10 menit kemudian, mereka bertemu lagi. “Ada hasil?” tanya Yusa. Mereka semua menggelengkan kepala. “Udah lah, ultah Lona kan masih lama. Kita ke bagian stationery, yuk! Sekalian, aku juga mau beli barang.” usul Sandya. “Oke!” jawab yang lainnya, lalu mereka ke bagian stationery.
“Ni, kita beli aja kado buat Fira dan Sandya. Urunan aku, kamu, Anind, Yusa. Lagian ultah mereka kan tinggal bentar lagi…” bisik L’Ners pada Nia. Nia berpikir sebentar. “Oke deh…” jawabnya kemudian, lalu membisikkan ide itu ke Anind dan Yusa. Mereka juga setuju. “Fir, San! Kalian ke bagian lain dulu deh! Kita mau cari kado buat kalian, nih!” ujar Yusa sedikit mengusir. “Wah, beneran nih?!” ujar Fira tak percaya. Yusa mengangguk. “Yang bagus, lho!” ujar Sandya dan Fira, lalu mereka ke bagian sebelah.
L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind pun lalu sibuk memilih kado untuk Fira dan Sandya. “Fira mau yang apa, nih?! Kalau Sandya?” tanya Nia. “Ngg...beliin alat tulis aja! Biar sekalian murah, kita nggak bawa uang banyak!” usul L’Ners. Akhirnya, setelah agak lama memilih dan berdebat, mereka memilih alat tulis Princess untuk Fira dan alat tulis HSM untuk Sandya. Kebetulan isinya sama dan harganya juga sama, jadi adil. Karena harganya lumayan mahal, Yusa yang membawa uang banyak yang disuruh membayar. Besok diganti L’Ners, Nia, dan Anind.
Setelah membayar, L’Ners, Yusa, Nia, dan Anind memutuskan ke lantai paling atas untuk melihat-lihat buku. Setelah lumayan lama melihat-lihat, mereka bosan juga. “Hhh...udahan, yuk! Sandya sama Fira mana, sih?!” keluh Anind sambil mengusap peluh. L’Ners mengangkat bahu. “Cari aja!” ujarnya. Namun, Sandya dan Fira tidak ketemu juga. Akhirnya mereka memutuskan memanggil mereka di call centre, atas nama Nia.
Setelah melapor ke call centre, mereka turun lagi ke bagian stationery. Waktu melewati bagian stiker, mereka melihat Sandya dan Fira sedang asyik melihat-lihat. Mereka segera menghampirinya. “Ya ampun, kalian di sini, ya?! Malah tadi udah terlanjur ke call centre.” ujar L’Ners kaget. Fira dan Sandya terlihat bingung. “Kita dari tadi juga di sini terus, kok!” ujar Sandya.
Keesokan harinya, L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind memberikan kadonya kepada Sandya dan Fira. “Jangan dibuka sekarang, ya! Di rumah aja!” ujar L’Ners sambil memberikan kado itu kepada Sandya dan Fira. Mereka mengangguk. Fira lalu menghampiri L’Ners. “Ners, kado Sandya apa?” bisik Fira penasaran. “Alat tulis HSM, tapi jangan bilang Sandya, lho!” jawab L’Ners sambil ikut berbisik. “Kalau aku?” tanya Fira lagi. L’Ners tersenyum. “Pokoknya beda!” jawab L’Ners misterius. Fira mengangkat bahu, lalu pergi.
Pagi-pagi, saat L’Ners baru aja masuk kelas, Sandya langsung menghampirinya. “Makasih ya, kadonya! Bagus!” ujar Sandya. L’Ners tersenyum senang. “Sama-sama. Itu juga dari Nia, Anind, dan Yusa juga, kok!” ujar L’Ners merendah.
“Hai, Fir!” sapa L’Ners ramah pada Fira yang sedang mengobrol dengan Wina dan Ina. Fira hanya menatap L’Ners sebentar, lalu mengobrol lagi. L’Ners jadi bingung. Tiba-tiba, ia ditarik oleh Nia.
“Gawat, Ners! Fira marah!” ujar Nia panik. “Kok bisa? Marah kenapa? Bukannya dia udah kita kasih kado?” tanya L’Ners bingung. “Itu masalahnya!” celetuk Lona yang tahu-tahu datang. L’Ners mengerutkan dahi. “Sini! Ikut aku! Ajak Anind sama Yusa juga!” suruh Nia. L’Ners lalu memanggil Anind dan Yusa, lalu mengikuti Nia keluar kelas menuju balkon kecil di sebelah kelas.
“Jadi ceritanya gini! Fira tuh cemburu, soalnya kadonya Sandya HSM. Dia kan juga suka HSM!” ujar Lona singkat. “Tapi dia juga suka Princess, kan?!” ujar Anind ragu. “Suka sih suka! Tapi lebih suka HSM, jadi dia cemburu!” tukas Nia. Mereka terdiam. “Apa kubilang, harusnya kita kado Sandya Marie Cat aja! Jangan HSM!” ujar Yusa memecah keheningan. “Kemarin tapi kan nggak ada alat tulis Marie Cat!” tukas L’Ners tidak sabar. Yusa mengedikkan bahu. “Ngg... Atau kita kado lagi aja, ya?! Kan kemarin Yusa nunjukkin stiker nama Hannah Montana. Kita bikinin aja Fira itu, tapi HSM.” usul Nia. “Tapi, nanti malah jadi Sandya yang cemburu ganti!” ujar Yusa masuk akal. “Ya Sandya kasih aja kalung yang ada namanya. Bilang aja bukan HSM soalnya yang sebelumnya udah HSM.” kata Lona. “Hhh...kalau begini kita kan yang jadi repot! Mahal tau nggak sih, kayak gitu!” gerutu Anind. “Ya...gimana lagi?! Kita nggak pingin kan, persahabatan kita sama Fira putus cuma karena kado?!” ujar L’Ners.
Keesokan harinya, Fira masih tidak mau bicara dengan mereka. L’Ners, Nia, Anind, Lona, dan Yusa semakin cemas. “Gimana, kapan kita pesannya?” tanya Nia saat mereka sedang berkumpul di kantin. “Hhh...Ni! Nggak ada yang sempat!” keluh Lona lalu melanjutkan memakan sotonya. “Iya, apalagi uangku udah nge-pas banget nih! Ada banyak lagi lho, yang mau ultah!” ujar Anind sambil menatap Nia, Yusa, dan L’Ners penuh arti, yang maksudnya ultah Lona.
Pulang sekolah, Nia, Yusa, L’Ners, dan Anind berkumpul lagi untuk membahas kado untuk Lona. “Tapi gimana Fira-nya?” tanya Nia cemas. Yusa mendesah, “Nggak usah dipikirin dulu, oke?! Kita fokus ke Lona.”. L’Ners mengangguk setuju. “Jadi, siapa aja yang mau urunan?” tanya L’Ners. Nia mengecek daftarnya. “Yang diundang Lona ke ultahnya minggu depan, ada nggg...” Nia lalu sibuk menghitung, “15 orang.”. “Kalau gitu, bisa yang mahal dan banyak, dong!” ujar Anind. Yang lainnya mengangguk.
“Eh, tapi tau nggak?! Sandya tuh bilang kado buat Lona jangan HSM, nanti bikin yang lain iri!” bisik Nia sambil sibuk melihat kiri kanan. L’Ners langsung memprotes, “Nggak bisa gitu dong! Dia juga udah di kasih kado HSM, kok! Apalagi kan, Lona temen baik kita, kalau Sandya cuma temen biasa aja! Udah, nggak usah didengerin!”. Nia hanya mengangguk.
“Hai, Nind! Udah bawa uangnya?” tanya L’Ners saat ia bertemu Anind di Kedai Digital untuk memesan mug khusus untuk kado Lona. Anind mengangguk, “Kamu udah bawa gambarnya?” tanya Anind. “Beres, ada di HP!” jawab L’Ners sambil mengacungkan jempol. Mereka lalu masuk ke Kedai Digital.
Nia, L’Ners, Anind, dan Yusa sudah memutuskan akan memberi Lona kado mug yang ada foto Lona main gitar, foto Lona di Museum Dirgantara bersama kelompok Pramukanya, dan gambar HSM, serta tambahan juga dompet dan kue tart. L’Ners dan Anind bertugas memesan mugnya, sedangkan Nia membeli dompet serta kue tartnya.
“Kapan bisa diambil, mbak?” tanya L’Ners setelah ia dan Anind selesai memesan mug kepada penjaga toko. “Ngg...lusa sore. Soalnya kan besok libur, jadi baru bisa jadi lusa sore.” jawab penjaga toko itu sambil menulis nota. L’Ners bertukar pandang cemas kepada Anind. Ultah Lona kan, lusa siang!
Pulang dari Kedai Digital L’Ners langsung menelepon Nia, memberitahunya bahwa mugnya baru bisa jadi lusa sore. Nia sebetulnya cemas, tapi dia bilang nggak papa, kan ada kado lainnya, nanti mugnya bisa nyusul. L’Ners juga sekali lagi mengingatkan Nia kalau dia nggak bisa ikut ultah Lona karena liburan ke Bandung, tapi dia tetap urunan.
Liburan L’Ners di Bandung sangat menyenangkan. Ia pergi ke berbagai tempat asyik yang nggak ada di Jogja. Waktu hari kedua, malam-malam dia mendapat sms dari Nia. Katanya Sandya tadi pagi-pagi menelepon Nia, marah-marah soalnya kado buat Lona HSM. L’Ners langsung membalas dengan bertanya pada Nia apa Nia ngasih tau ke Sandya? Sebaiknya nggak usah dikasih tau! Nia menjawab kalau dia sama sekali nggak memberitahu Sandya, nggak tau Sandya tau dari siapa. L’Ners membalas lagi, gimana dong?! Bukannya Sandya juga diundang ke ultah Lona? Tapi kok dia tau itu, lho, yang aku bingung! Nia menjawab, nanti deh aku telpon, aku jelasin semuanya!
L’Ners sudah tidak sabar menunggu telpon Nia keesokan harinya. Saat beristirahat selesai outbond, ia menelepon Nia. Suara Nia hampir tidak kedengaran, berisik banget di pesta ultah Lona. L’Ners sempat mengucapkan selamat ultah sama Lona. Nia bilang ke dia kalau Sandya datang, tapi nggak tau masih marah apa nggak. L’Ners lalu bilang ke Nia kalau sampai Senin Sandya masih marah, L’Ners nanti yang ngomong sama Sandya. Tapi L’Ners menduga Sandya nggak akan marah lagi. Lama-lama nanti juga kayak Fira yang udah normal lagi.
L’Ners nggak habis pikir, kenapa sih teman sekelasnya bisa cemburu berat cuma gara-gara kado?! Kado kan cuma simbol ucapan selamat ultah. Apalagi cemburunya karena merasa kado yang dikasih ke dia lebih jelek daripada kado yang dikasih ke orang lain. Itu, kan, sama aja nggak menghargai yang ngasih kado, udah capek-capek cari kado malah dimusuhin cuma gara-gara masalah sepele kayak gitu! Jangan ditiru deh, batin L’Ners dalam hati.
Pulang sekolah, mereka langsung keluar kelas dan ke tempat parkir mobil. Saat mereka melewati kantin, mereka tiba-tiba dicegat Lona. “Hai, kok pada ngumpul semua, sih?!” tanya Lona. Mereka terdiam bingung. “Ngg…nggak ngumpul kok! Cuma kebetulan ketemu…” jawab L’Ners tergagap. “Masa??? Nggak mungkin ah… Hayo, pada mau kemana sih? Aku boleh ikut nggak?” tanya Lona sambil tersenyum. Mereka makin salah tingkah. “Nggak, Lon! Kita tuh nggak mau kemana-mana!” ujar Nia. “Tuh kan, kalian kayak gitu! Ayo dong, ada apa sih? Kok aku pasti nggak pernah diajak sih?” Lona terus memaksa. “Illona…” Anind menyebut nama panjang Lona. “Kita nggak mau kemana-mana, oke?!” ujar Anind keras. “Oke, oke! Ya udah, kalau nggak kemana-mana, nge-net yuk!” ajak Lona. “Aku sibuk!” L’Ners, Nia, Anind, Yusa, Sandya, dan Fira menjawab serempak. Lona mengangkat bahu. “Oke, sampai ketemu besok…” ujarnya sambil meninggalkan mereka. Mereka mendesah lega.
Sampailah mereka di Gramedia menggunakan mobil L’Ners. Mereka segera masuk dan berjalan ke bagian tas-tas. “Oke, kita cari yang bagus dan harganya pas sama uang urunan kita, ya…” ujar Nia. Mereka lalu berpencar. 10 menit kemudian, mereka bertemu lagi. “Ada hasil?” tanya Yusa. Mereka semua menggelengkan kepala. “Udah lah, ultah Lona kan masih lama. Kita ke bagian stationery, yuk! Sekalian, aku juga mau beli barang.” usul Sandya. “Oke!” jawab yang lainnya, lalu mereka ke bagian stationery.
“Ni, kita beli aja kado buat Fira dan Sandya. Urunan aku, kamu, Anind, Yusa. Lagian ultah mereka kan tinggal bentar lagi…” bisik L’Ners pada Nia. Nia berpikir sebentar. “Oke deh…” jawabnya kemudian, lalu membisikkan ide itu ke Anind dan Yusa. Mereka juga setuju. “Fir, San! Kalian ke bagian lain dulu deh! Kita mau cari kado buat kalian, nih!” ujar Yusa sedikit mengusir. “Wah, beneran nih?!” ujar Fira tak percaya. Yusa mengangguk. “Yang bagus, lho!” ujar Sandya dan Fira, lalu mereka ke bagian sebelah.
L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind pun lalu sibuk memilih kado untuk Fira dan Sandya. “Fira mau yang apa, nih?! Kalau Sandya?” tanya Nia. “Ngg...beliin alat tulis aja! Biar sekalian murah, kita nggak bawa uang banyak!” usul L’Ners. Akhirnya, setelah agak lama memilih dan berdebat, mereka memilih alat tulis Princess untuk Fira dan alat tulis HSM untuk Sandya. Kebetulan isinya sama dan harganya juga sama, jadi adil. Karena harganya lumayan mahal, Yusa yang membawa uang banyak yang disuruh membayar. Besok diganti L’Ners, Nia, dan Anind.
Setelah membayar, L’Ners, Yusa, Nia, dan Anind memutuskan ke lantai paling atas untuk melihat-lihat buku. Setelah lumayan lama melihat-lihat, mereka bosan juga. “Hhh...udahan, yuk! Sandya sama Fira mana, sih?!” keluh Anind sambil mengusap peluh. L’Ners mengangkat bahu. “Cari aja!” ujarnya. Namun, Sandya dan Fira tidak ketemu juga. Akhirnya mereka memutuskan memanggil mereka di call centre, atas nama Nia.
Setelah melapor ke call centre, mereka turun lagi ke bagian stationery. Waktu melewati bagian stiker, mereka melihat Sandya dan Fira sedang asyik melihat-lihat. Mereka segera menghampirinya. “Ya ampun, kalian di sini, ya?! Malah tadi udah terlanjur ke call centre.” ujar L’Ners kaget. Fira dan Sandya terlihat bingung. “Kita dari tadi juga di sini terus, kok!” ujar Sandya.
Keesokan harinya, L’Ners, Nia, Yusa, dan Anind memberikan kadonya kepada Sandya dan Fira. “Jangan dibuka sekarang, ya! Di rumah aja!” ujar L’Ners sambil memberikan kado itu kepada Sandya dan Fira. Mereka mengangguk. Fira lalu menghampiri L’Ners. “Ners, kado Sandya apa?” bisik Fira penasaran. “Alat tulis HSM, tapi jangan bilang Sandya, lho!” jawab L’Ners sambil ikut berbisik. “Kalau aku?” tanya Fira lagi. L’Ners tersenyum. “Pokoknya beda!” jawab L’Ners misterius. Fira mengangkat bahu, lalu pergi.
Pagi-pagi, saat L’Ners baru aja masuk kelas, Sandya langsung menghampirinya. “Makasih ya, kadonya! Bagus!” ujar Sandya. L’Ners tersenyum senang. “Sama-sama. Itu juga dari Nia, Anind, dan Yusa juga, kok!” ujar L’Ners merendah.
“Hai, Fir!” sapa L’Ners ramah pada Fira yang sedang mengobrol dengan Wina dan Ina. Fira hanya menatap L’Ners sebentar, lalu mengobrol lagi. L’Ners jadi bingung. Tiba-tiba, ia ditarik oleh Nia.
“Gawat, Ners! Fira marah!” ujar Nia panik. “Kok bisa? Marah kenapa? Bukannya dia udah kita kasih kado?” tanya L’Ners bingung. “Itu masalahnya!” celetuk Lona yang tahu-tahu datang. L’Ners mengerutkan dahi. “Sini! Ikut aku! Ajak Anind sama Yusa juga!” suruh Nia. L’Ners lalu memanggil Anind dan Yusa, lalu mengikuti Nia keluar kelas menuju balkon kecil di sebelah kelas.
“Jadi ceritanya gini! Fira tuh cemburu, soalnya kadonya Sandya HSM. Dia kan juga suka HSM!” ujar Lona singkat. “Tapi dia juga suka Princess, kan?!” ujar Anind ragu. “Suka sih suka! Tapi lebih suka HSM, jadi dia cemburu!” tukas Nia. Mereka terdiam. “Apa kubilang, harusnya kita kado Sandya Marie Cat aja! Jangan HSM!” ujar Yusa memecah keheningan. “Kemarin tapi kan nggak ada alat tulis Marie Cat!” tukas L’Ners tidak sabar. Yusa mengedikkan bahu. “Ngg... Atau kita kado lagi aja, ya?! Kan kemarin Yusa nunjukkin stiker nama Hannah Montana. Kita bikinin aja Fira itu, tapi HSM.” usul Nia. “Tapi, nanti malah jadi Sandya yang cemburu ganti!” ujar Yusa masuk akal. “Ya Sandya kasih aja kalung yang ada namanya. Bilang aja bukan HSM soalnya yang sebelumnya udah HSM.” kata Lona. “Hhh...kalau begini kita kan yang jadi repot! Mahal tau nggak sih, kayak gitu!” gerutu Anind. “Ya...gimana lagi?! Kita nggak pingin kan, persahabatan kita sama Fira putus cuma karena kado?!” ujar L’Ners.
Keesokan harinya, Fira masih tidak mau bicara dengan mereka. L’Ners, Nia, Anind, Lona, dan Yusa semakin cemas. “Gimana, kapan kita pesannya?” tanya Nia saat mereka sedang berkumpul di kantin. “Hhh...Ni! Nggak ada yang sempat!” keluh Lona lalu melanjutkan memakan sotonya. “Iya, apalagi uangku udah nge-pas banget nih! Ada banyak lagi lho, yang mau ultah!” ujar Anind sambil menatap Nia, Yusa, dan L’Ners penuh arti, yang maksudnya ultah Lona.
Pulang sekolah, Nia, Yusa, L’Ners, dan Anind berkumpul lagi untuk membahas kado untuk Lona. “Tapi gimana Fira-nya?” tanya Nia cemas. Yusa mendesah, “Nggak usah dipikirin dulu, oke?! Kita fokus ke Lona.”. L’Ners mengangguk setuju. “Jadi, siapa aja yang mau urunan?” tanya L’Ners. Nia mengecek daftarnya. “Yang diundang Lona ke ultahnya minggu depan, ada nggg...” Nia lalu sibuk menghitung, “15 orang.”. “Kalau gitu, bisa yang mahal dan banyak, dong!” ujar Anind. Yang lainnya mengangguk.
“Eh, tapi tau nggak?! Sandya tuh bilang kado buat Lona jangan HSM, nanti bikin yang lain iri!” bisik Nia sambil sibuk melihat kiri kanan. L’Ners langsung memprotes, “Nggak bisa gitu dong! Dia juga udah di kasih kado HSM, kok! Apalagi kan, Lona temen baik kita, kalau Sandya cuma temen biasa aja! Udah, nggak usah didengerin!”. Nia hanya mengangguk.
“Hai, Nind! Udah bawa uangnya?” tanya L’Ners saat ia bertemu Anind di Kedai Digital untuk memesan mug khusus untuk kado Lona. Anind mengangguk, “Kamu udah bawa gambarnya?” tanya Anind. “Beres, ada di HP!” jawab L’Ners sambil mengacungkan jempol. Mereka lalu masuk ke Kedai Digital.
Nia, L’Ners, Anind, dan Yusa sudah memutuskan akan memberi Lona kado mug yang ada foto Lona main gitar, foto Lona di Museum Dirgantara bersama kelompok Pramukanya, dan gambar HSM, serta tambahan juga dompet dan kue tart. L’Ners dan Anind bertugas memesan mugnya, sedangkan Nia membeli dompet serta kue tartnya.
“Kapan bisa diambil, mbak?” tanya L’Ners setelah ia dan Anind selesai memesan mug kepada penjaga toko. “Ngg...lusa sore. Soalnya kan besok libur, jadi baru bisa jadi lusa sore.” jawab penjaga toko itu sambil menulis nota. L’Ners bertukar pandang cemas kepada Anind. Ultah Lona kan, lusa siang!
Pulang dari Kedai Digital L’Ners langsung menelepon Nia, memberitahunya bahwa mugnya baru bisa jadi lusa sore. Nia sebetulnya cemas, tapi dia bilang nggak papa, kan ada kado lainnya, nanti mugnya bisa nyusul. L’Ners juga sekali lagi mengingatkan Nia kalau dia nggak bisa ikut ultah Lona karena liburan ke Bandung, tapi dia tetap urunan.
Liburan L’Ners di Bandung sangat menyenangkan. Ia pergi ke berbagai tempat asyik yang nggak ada di Jogja. Waktu hari kedua, malam-malam dia mendapat sms dari Nia. Katanya Sandya tadi pagi-pagi menelepon Nia, marah-marah soalnya kado buat Lona HSM. L’Ners langsung membalas dengan bertanya pada Nia apa Nia ngasih tau ke Sandya? Sebaiknya nggak usah dikasih tau! Nia menjawab kalau dia sama sekali nggak memberitahu Sandya, nggak tau Sandya tau dari siapa. L’Ners membalas lagi, gimana dong?! Bukannya Sandya juga diundang ke ultah Lona? Tapi kok dia tau itu, lho, yang aku bingung! Nia menjawab, nanti deh aku telpon, aku jelasin semuanya!
L’Ners sudah tidak sabar menunggu telpon Nia keesokan harinya. Saat beristirahat selesai outbond, ia menelepon Nia. Suara Nia hampir tidak kedengaran, berisik banget di pesta ultah Lona. L’Ners sempat mengucapkan selamat ultah sama Lona. Nia bilang ke dia kalau Sandya datang, tapi nggak tau masih marah apa nggak. L’Ners lalu bilang ke Nia kalau sampai Senin Sandya masih marah, L’Ners nanti yang ngomong sama Sandya. Tapi L’Ners menduga Sandya nggak akan marah lagi. Lama-lama nanti juga kayak Fira yang udah normal lagi.
L’Ners nggak habis pikir, kenapa sih teman sekelasnya bisa cemburu berat cuma gara-gara kado?! Kado kan cuma simbol ucapan selamat ultah. Apalagi cemburunya karena merasa kado yang dikasih ke dia lebih jelek daripada kado yang dikasih ke orang lain. Itu, kan, sama aja nggak menghargai yang ngasih kado, udah capek-capek cari kado malah dimusuhin cuma gara-gara masalah sepele kayak gitu! Jangan ditiru deh, batin L’Ners dalam hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)



